Laporan Tahunan 2011

PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk.

TATA KELOLA INTERNAL AUDIT

 

Internal Audit

Unit Internal Audit (”IA”) berperan dalam menjalankan fungsi pengendalian atas aktivitas bisnis Perusahaan. Untuk tujuan itu, seperti diatur dalam peraturan pasar modal yang berlaku, IA bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.

Piagam Internal Audit

Guna menguatkan peran dan tanggung jawab dari IA, Piagam Internal Audit (IA Charter) telah mendeskripsikannya secara jelas yang berisi visi, misi, struktur, status, tugas tanggung jawab dan wewenang IA, persyaratan auditor dan persetujuan Direktur Utama termasuk Komite Audit atas isi Piagam IA, dengan berpedoman pada standar profesi internal audit internasional yaitu The International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing yang dikeluarkan oleh Institut Internal Auditor (“IIA”).

Sebagai perwujudan komitmen terhadap Piagam IA tersebut, pada tahun 2011, IA melakukan penataan atas posisinya sejalan dengan format organisasi Perusahaan dan untuk meningkatkan peran serta IA dalam mengawal bisnis Perusahaan.

Tugas dan Tanggung Jawab Internal Audit

Penguatan posisi IA merupakan aktivitas strategis dalam rangka memformulasikan kontribusi peran IA terhadap penyelenggaraan bisnis Perusahaan. Aktivitas ini dilakukan melalui perumusan ulang organisasi IA sejalan dengan peran IA dalam rangka pengawalan terhadap bisnis Perusahaan, sesuai dengan fungsi utama IA sebagai pemberi jaminan (assurance) dan layanan konsultansi internal (internal consulting services). Adapun strategi dan tujuan IA diterjemahkan dalam program kegiatan audit/non audit tahun 2011 sebagai perwujudan pemahaman IA terhadap arah bisnis Perusahaan. Perumusan di atas secara garis besar tertuang di dalam Master Plan IA 2009-2014.

Aktivitas IA diarahkan pada komitmen bahwa misi IA dapat terselenggara secara metodologis, yang berarti setiap tahapan kegiatan audit dan konsultasi internal yang meliputi persiapan, pelaksanaan dan pemantauan hasil tindak lanjut merupakan proses yang terstandarisasi dan terukur. Untuk tujuan ini, pada tahap persiapan audit, metodologi audit berbasis risiko menjadi pedoman utama yang menekankan bahwa penentuan auditable units didasarkan pada tingkat risiko dari masing-masing proses bisnis, makin tinggi risiko makin tinggi keharusan untuk diaudit. Tingkat risiko dari sasaran audit didasarkan kepada risiko yang telah dipetakan dan ditetapkan oleh Perusahaan maupun penilaian profesional oleh IA sendiri.

Guna memfasilitasi paradigma audit berbasis risiko tersebut, IA sejak awal tahun 2009 telah dilengkapi dengan sebuah alat manajemen yaitu Sistem Manajemen Audit (“AMS”) yang merupakan sebuah sistem aplikasi untuk mendokumentasikan pelaksanaan audit berbasis risiko secara online.

Peningkatan peran serta IA dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas assurance atas operasional Perusahaan melalui aktivitas audit maupun non audit. Audit dilakukan untuk memastikan bahwa risiko-risiko bisnis yang mungkin terjadi dapat segera diatasi melalui pengendalian internal yang efektif. Jika ditemukan ketidakefektifan pada pengendalian suatu proses bisnis dan atau risiko yang di luar kendali, maka dilakukan substantive test, yaitu pengujian lanjut objek audit guna mendalami akar permasalahannya. Dengan alasan itu, pada tahun 2011, audit yang dilakukan mencakup area-area bisnis yang berisiko tinggi seperti proses penerbitan laporan keuangan Telkom Group per triwulan dan periode akhir tahun, proses keterbukaan (disclosure) informasi Perusahaan yang dipersyaratkan otoritas pasar modal per triwulan maupun akhir tahun (Annual Report), penjaminan pendapatan, proses pengelolaan atas kesiapan dan kualitas infrastruktur, proses pengawalan pelayanan dan proses pengawalan terhadap sinergi audit di Telkom Group. Disamping itu sebagai konsekuensi Telkom mencatatkan sahamnya di BEI maupun NYSE, secara konsisten dan periodik, IA melakukan pengujian dan pengawalan terhadap efektivitas dan kecukupan pelaksanaan pengendalian internal dalam rangka pelaporan keuangan (Internal Control over Financial Reporting/ICOFR). Telkom telah menjalani audit ICOFR ini sejak 2006. Telkom dapat menghilangkan kelemahan material ICOFR pada tahun 2008 dan dapat mempertahankan sampai dengan tahun 2011 ini. Dalam rangka mendukung penyelenggaraan audit dan menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya melakukan pengendalian internal bagi para unit bisnis, setiap triwulan, unit bisnis melakukan Control Self Assessment (“CSA”) terhadap pengendalian internal yang menjadi tanggung jawabnya. Secara periodik, IA melakukan evaluasi terhadap hasil CSA tersebut untuk mengukur tingkat kecukupannya dan menghasilkan rekomendasi perbaikan baik terhadap rancangan maupun pelaksanaan.

Pada tahun 2011, Perusahaan telah mengimplementasikan seluruh proses transaksi dan pelaporan keuangannya sesuai dengan International Financial Reporting Standards (“IFRS”). IA secara aktif mendukung dan melakukan pengawalan dalam aktivitas persiapan dan koordinasi dalam rangka implementasi IFRS, dengan cara melakukan review laporan keuangan dan memberikan konsultasi operasional keuangan berbasis IFRS.

Tahap selanjutnya adalah ikut serta dalam kegiatan layanan konsultasi internal. Pada tahun 2011, layanan konsultansi internal difokuskan pada penyelenggaraan operasional Perusahaan yang dapat dikelompokkan menjadi pengelolaan infrastruktur (alat produksi), produk dan layanan serta operasi pendukung, termasuk identifikasi Risiko Pelaporan Keuangan Grup (Group Financial Reporting Risk/GFRR), penyusunan Proses Bisnis Entitas Anak dan pengelolaan SDM. Aktivitas konsultasi internal ini lebih merupakan solusi pencegahan sebagai antisipasi agar penyelenggaraan bisnis tetap pada arah yang tepat dan mengindahkan rambu-rambu peraturan yang berlaku.

Sebagai bagian dari Perusahaan yang punya komitmen tinggi terhadap keberhasilan GCG, IA memiliki peranan penting dalam mekanisme whistleblower yang merupakan domain Komite Audit dan Executive Investigative Committee (“EIC”), di mana kepala IA ditunjuk sebagai sekretaris EIC. Mekanisme whistleblower berfungsi untuk mengakomodasi setiap ‘pengaduan’ oleh karyawan untuk diteruskan kepada manajemen. Pada gilirannya, jika Komite Audit dan EIC menilai bahwa pengaduan perlu diselidiki lebih lanjut, IA akan mengambil peran untuk menindaklanjuti sebagai bagian dari tugas audit.

Hasil-hasil kegiatan di atas dilaporkan kepada Direktur Utama dengan tembusan kepada Komite Audit. Kemudian hasil-hasil itu pun diinformasikan kepada auditee untuk ditindaklanjuti dan dilakukan perbaikan.

Untuk memastikan bahwa auditee telah memberikan respon yang cukup atas hasil audit dan konsultasi internal, maka perlu dilakukan upaya pengawasan lebih lanjut. Tindak lanjut di lapangan dilakukan oleh auditee yang kemudian dimonitor oleh IA. Untuk hal ini, tindak lanjut dibatasi pada area-area proses bisnis yang signifikan dengan target waktu penyelesaian yang disepakati bersama. Selama tahun 2011 fokus lain IA adalah pengawasan tindak lanjut atas kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada tahun 2010. Aktivitas pengawasan telah didokumentasikan dengan baik.

Untuk memelihara dan meningkatkan tenaga auditor yang memiliki kompetensi memadai untuk dapat berperan sesuai dengan lingkup kegiatan IA dalam mengawal perkembangan bisnis Perusahaan, selama tahun 2011 IA telah melakukan upaya-upaya penting di antaranya:

  1. melibatkan tenaga auditor secara intens dalam penerapan adopsi secara penuh IFRS di Telkom melalui pelatihan, pemagangan, seminar dan workshop;
  2. mengikutsertakan auditor dalam program direct assistance oleh PricewaterhouseCoopers;
  3. mengikutsertakan pelatihan dan atau seminar yang bersifat teknis operasional Telkom; dan
  4. mengikutsertakan auditor dalam pembelajaran berkelanjutan yang bersertifikasi, baik lokal maupun internasional.

Sejak tahun 2007, IA dipimpin oleh Tjatur Purwadi, SE, MM, karyawan Perseroan yang telah meniti karir panjang pada bidang teknis operasional. Kemudian yang bersangkutan ikut aktif menyusun dan membenahi sistem akuntansi perseroan sehingga mengantarkannya pada posisi Vice President Financial & Logistic Policy sebelum memangku jabatan Head of IA.

Struktur Internal Audit

Berikut adalah bagan struktur Internal Audit Telkom:

Independensi Auditor

Laporan Keuangan Perusahaan untuk tahun buku 2011 telah diaudit oleh PwC. Penunjukan auditor independen untuk tahun buku 2011 dilakukan sesuai dengan prosedur penunjukan yang tepat dengan memperhatikan independensi dan kualifikasi auditor independen.

Biaya dan Jasa Auditor Eksternal

Tabel berikut menyajikan ringkasan tagihan yang disampaikan PwC untuk tahun 2009, 2010 dan 2011 berturut-turut:

 
  Tahun-tahun yang Berakhir pada 31 Desember
2009  2010  2011 
(Rp juta)
Biaya Audit 49.640  41.872  40.503** 
Biaya Jasa Perpajakan* 332  398  70 
Semua biaya lainnya 500  400  400 
(*) Tagihan yang dibayar atas jasa kepatuhan pajak untuk Telin yang diberikan PwC, belum termasuk PPN 10%
(**) Termasuk Telkomsel dan TSFL; Metra dan Sigma; Dayamitra; Telin dan TII PTE Ltd. belum termasuk PPN 10%

Kebijakan dan Prosedur Pre-Aproval Komite Audit

TELKOM menerapkan kebijakan dan prosedur Pre-Approval yang mensyaratkan bahwa semua jasa non-audit yang akan diberikan oleh Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai Auditor Independen, sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian Komite Audit, harus mendapat persetujuan lebih dulu dari Komite Audit. Berdasarkan perjanjian tersebut, jasa non-audit mungkin dapat diperkenankan untuk dilaksanakan oleh Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai Auditor Independen dengan ketentuan bahwa: (i) Direksi harus menyampaikan kepada Komite Audit (melalui Dewan Komisaris) uraian jasa non-audit yang akan dilaksanakan oleh Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai Auditor Independen; dan (ii) Komite Audit akan memutuskan apakah jasa non-audit yang diajukan akan mempengaruhi independensi Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai Auditor Independen atau akan menimbulkan benturan kepentingan.

Konsisten dengan Section 10(i) (1) (B) dari Exchange Act paragraf (c) (7) (i) (C) dari Rule 2-01 Regulation S-X Audit Committee Charter memberikan pengecualian untuk persyaratan Pre-Approval atas jasa non-audit yang diperkenankan (i) jika jumlah seluruh biaya jasa non-audit tersebut tidak lebih dari lima persen dari jumlah biaya audit yang dibayarkan oleh TELKOM kepada Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai Auditor Independen pada tahun buku, ketika jasa tersebut diberikan (ii) jasa yang diajukan tersebut tidak dianggap sebagai jasa non-audit pada saat kontrak untuk melaksanakannya ditandatangani, dan (iii) pelaksanaan jasa non-audit diketahui dengan tepat waktu dan disetujui sebelum penyelesaian audit oleh seorang anggota Komite Audit yang telah mendapat pelimpahan wewenang untuk memberikan pre-Approval dari Komite Audit atau langsung oleh Komite Audit.