RUPSLB TELKOM 2007 : Upaya TELKOM Mempertahankan Tren Kinerja Tinggi

Jakarta, 28 Februari 2007 – Meningkatnya pertumbuhan kinerja PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) di tahun 2006 tak lepas dari kerja keras dan cerdas dari seluruh jajaran Telkom yang menghendaki posisi Telkom tetap sebagai yang terdepan dalam kancah persaingan bisnis telekomunikasi di Indonesia. Di tahun 2006 Telkom telah membukukan prestasi yang meng-gembirakan, baik dari sisi keuangan maupun operasional, tantangan yang harus dihadapi ke depan adalah lebih pada bagaimana memanfaatkan momentum pertumbuhan yang dicapai selama 2005-2006 yang telah direspon sangat positif oleh pasar sehingga mengangkat nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) Telkom ke level yang sangat menguntungkan.
 
Menurut Direktur Utama Telkom Arwin Rasyid, disadari atau tidak dalam dua tahun terakhir Telkom telah melakukan berbagai lompatan besar yang diakui bukan saja oleh kalangan nasional, tetapi juga internasional. Dari sisi keuangan, hampir seluruh indikator finansial menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pendapatan konsolidasi Telkom Triwulan III 2006 mencapai Rp 37,2 Trilyun atau naik 23,4% dibanding pendapatan konsolidasi Telkom periode yang sama di tahun 2005. Laba bersih konsolidasi Telkom Triwulan III 2006 mencapai Rp 9,2 triliun atau tumbuh sekitar 62% dibanding laba bersih periode yang sama di tahun 2005. Sementara EBITDA Margin Telkom pada Triwulan III 2006 juga termasuk yang paling tinggi di antara operator-operator telekomunikasi dunia, yaitu 65,85%.
 
Dari sisi operasional, Telkom berhasil mempertahankan posisinya sebagai operator dengan basis pelanggan (customer base) terbesar. Bahkan telah terjadi lonjakan signifikan pada pertumbuhan pelanggan seluler Telkomsel yang di triwulan III 2006 mencapai 32,5 juta pelanggan. Sementara layanan telepon tetap nirkabel Telkom yang direpresentasikan oleh hadirnya layanan Flexi dengan fitur FlexiCombo diperkirakan akan terus berkembang dan tetap menjadi market leader telepon berbasis CDMA (Code Division Multiple Access) di Indonesia, terlebih dengan pernyataan regulator bahwa baik secara teknis maupun operasional layanan FlexiCombo telah sesuai (comply) dengan kebijakan BRTI berdasarkan surat No.218/BRTI/X/2006 tentang Layanan Flexi Combo tanggal 4 Oktober 2006.(Pernyataan bahwa Flexi Combo telah comply dengan regulasi BRTI tertera dalam Surat Dirjen Postel Nomor 329/DJPT.3/Kominfo/2/2007 tentang Evaluasi Layanan Flexi Combo tanggal 12 Februari 2007)
 
Selama 2006 Telkom juga telah menyemaraki dinamika persaingan lewat berbagai inovasi dan kreativitas layanan. Fixed wireline yang tadinya semakin kurang diperhitungkan, kini mulai dipandang menyimpan value baru karena telah melahirkan derivatif layanan berupa akses broadband Speedy dan dial up Telkomnet Instan.
 
Yang cukup membanggakan lagi, lanjut Arwin Rasyid, adalah pencapaian nilai  harga pasar saham telkom (share price) yang pada akhir 2006 berhasil menembus angka Rp 10 ribu per lembar. ”Pencapaian ini tentunya mustahil diraih tanpa dukungan fundamental Telkom yang bagus, sehingga prestasi ini sebenarnya juga mencerminkan performa Telkom yang sesungguhnya,” ujar Arwin Rasyid.
 
Dikatakannya, berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri, telah menyampaikan pengakuan yang sangat positif tentang kinerja Telkom. Bahkan, serangkaian penghargaan bergengsi telah diraih Telkom, sehingga makin menggelembungkan value Telkom di mata publik dan investor.
 
 
Agenda Penting
 
Untuk menjamin kelangsungan kinerja Telkom ke depan, Arwin Rasyid juga memandang perlu melakukan beberapa langkah strategis yang akan memotivasi SDM. Dalam sambutan pengantarnya pada RUPSLB 2007, Arwin Rasyid menyampaikan beberapa agenda untuk disetujui pemegang saham, yaitu agenda tentang Restrukturisasi Dana Pensiun Telkom (Dapentel), agenda tentang Perubahan Rencana Perseroan atas Saham Yang Telah Dibeli Kembali, dan agenda tentang Persetujuan atas Pelaksanaan Program EMSOP (Employee and Management Stock Option Plan)
 
Tentang usulan restrukturisasi Dapentel, Arwin Rasyid memberikan gambaran bahwa pada posisi 1 Januari 2007, Dapentel mengelola Peserta Karyawan sebanyak 27.074 orang dan Peserta Pensiunan sebanyak 28.137 orang, yang terdiri dari yang Pensiun sebelum Juli 2002 sebanyak 20.623 orang dan mulai Juli 2002 sebanyak 7.514 orang. Adapun mulai Juli 2002 Karyawan yang direkrut Perseroan tidak lagi menjadi peserta Dapentel sehingga saat ini jumlah Peserta Dana Pensiun Telkom tidak mengalami pertumbuhan (closed population).
 
Dalam rangka memberikan solusi terhadap aspirasi Karyawan dan Pensiunan, Telkom menawarkan solusi berupa Restrukturisasi Dapentel dengan cara memisahkan Dapentel menjadi 2 (dua) bagian yang masing-masing berdiri sendiri yaitu Dapentel 1 yang mengelola dana pensiun bagi peserta yang pensiun sebelum 1 Juli 2002 dan Dapentel 2 yang mengelola dana pensiun bagi peserta karyawan yang pensiun mulai 1 Juli 2002, serta penggunaan Uni-Formulasi rumus manfaat pensiun bagi karyawan yang terdaftar sebagai peserta sebelum 20 April 1992 menjadi rumus manfaat pensiun yang digunakan oleh peserta mulai 20 April 1992.
 
Restrukturisasi Dapentel, demikian Arwin Rasyid, diharapkan dapat memperbaiki penerimaan penghasilan Pensiunan Perseroan melalui kemandirian organisasi Dana Pensiun Telkom secara jangka panjang, serta menghindari pendanaan dan pembebanan yang sangat material pada perusahaan pada satu tahun tertentu.
 
Agenda lain yang diusulkan yaitu agenda tentang Perubahan Rencana Perseroan atas Saham Yang Telah Dibeli Kembali (Agenda 2) serta agenda tentang Persetujuan atas Pelaksanaan Program EMSOP (Employee and Management Stock Option Plan) (Agenda 3).
Terkait dengan Agenda 2, Arwin Rasyid melaporkan realisasi dari program pembelian kembali saham yang telah memperoleh persetujuan dalam RUPSLB tanggal 21 Desember 2005. Berdasarkan Keputusan RUPSLB tersebut, Telkom telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan pembelian kembali saham Perseroan (shares buyback) yang telah dikeluarkan dan tercatat di Bursa Efek Jakarta, Bursa Efek Surabaya, atau tercatat dalam bentuk ADR di New York Stock Exchange.
Dalam perkembangannya, sampai posisi 27 Februari 2007, Perseroan telah membeli kembali saham Perseroan sebanyak 166.665.500 (seratus enam puluh enam juta enam ratus enam puluh lima ribu lima ratus) saham yang merupakan 16,53% dari maksimum jumlah saham yang boleh dibeli kembali oleh Perseroan atau 0,83% dari total 20,1 Milyar saham Perseroan yang ditempatkan dan disetor penuh.
Masih terkait dengan saham perseroan, di tahun 2007, menurut Arwin Rasyid, Telkom merencanakan program Employee & Management Stock Option Plan (EMSOP), yang diusulkan dengan menggunakan saham dari hasil pembelian kembali. EMSOP pada dasarnya memiliki kaitan dengan upaya shares buyback yang dilakukan perseroan.
EMSOP itu sendiri pemberian opsi kepada Peserta Yang Berhak untuk membeli saham EMSOP dalam jangka waktu tertentu. Program EMSOP merupakan program long term incentive (LTI) bagi karyawan dan manajemen guna mendukung ‘Company Objectives 3010’ yakni peningkatan nilai Kapitalisasi Pasar menjadi sebesar USD 30 Milyar pada tahun 2010. Dengan adanya program EMSOP ini, demikian Arwin Rasyid, ‘sense of belonging’ karyawan dan manajemen Telkom akan meningkat sehingga diharapkan akan mampu mendorong peningkatan kinerja perusahaan.
Melalui program EMSOP ini total jumlah Hak Opsi yang akan diberikan kepada peserta yang berhak adalah maksimum sebanyak 51.150.750 (lima puluh satu juta seratus lima puluh ribu tujuh ratus lima puluh) Hak Opsi. Jumlah ini adalah setara dengan 0,25 % dari total saham yang beredar, atau setara dengan 5,07 % dari maksimum yang dijinkan untuk dibeli kembali.
 
Upaya Ekstra
Usulan restrukturisasi Dapentel, program shares buyback dan EMSOP, sesungguhnya didasari keinginan manajemen Telkom untuk terus memacu SDM-SDM-nya agar termotivasi menampilkan performa terbaiknya bagi perusahaan. Dari segi apa pun, demikian Arwin Rasyid, tantangan ke depan pasti akan lebih berat, dan karenanya menuntut berbagai upaya ekstra dari SDM-SDM yang terlibat mengelola Telkom.
Harapan agar seluruh SDM Telkom memberikan kontribusi terbaiknya bagi perusahaan, tentu harus ditunjang oleh sistem. Restrukturisasi Dapentel dan EMSOP merupakan langkah strategis yang mampu memberikan jawaban terhadap harapan tersebut.
RUPS-LB Telkom 2007 membahas lima agenda yang meliputi:
 
 
Agenda Pertama
 
:
 
Restrukturisasi Dana PensiunTELKOM
Agenda Kedua
:
Perubahan Rencana Perseroan atas Saham Yang Telah Dibeli Kembali
Agenda Ketiga
:
Agenda Keempat
:
Penyesuaian Masa Jabatan Anggota Komisaris Perseroan yang diangkat pada RUPSLB tanggal 10 Maret 2004 sesuai dengan Ketentuan Anggaran Dasar Perseroan yang baru dan Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN
Agenda Kelima
:
Perubahan Susunan Keanggotaan Direksi
 
Arwin Rasyid berharap RUPSLB 2007 menghasilkan yang terbaik bagi Telkom. Bagaimanapun, dalam pandangan Arwin Rasyid, Telkom adalah aset yang sangat berharga bagi Bangsa Indonesia, dan karenanya perlu terus ditingkatkan potensi dan kinerjanya.
 
 
 
Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi :
 
 
Muhammad Awaluddin
Vice President Public and Marketing Communication
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Tel. 62-21-5213288
Fax. 62-21-5203322
Email: awaluddin@telkom.co.id
Website : www.telkom-indonesia.com