Kiat untuk menjadi haji mabrur ada 3 hal diantaranya: Niat Karena Allah, melakukan apa yang di contohkan oleh Nabi dan jadilah gudang kesabaran demikian menurut Ketua Dewan Dakwah Indonesia Ust. H Suhada Bachri LC saat memberikan pembekalan kepada 51 orang calon haji, Selasa 20 Oktober 2009 di Maasjid An-Nahl Grha Telkom Tangerang. Yang di hadiiri oleh para jamaah Masjid dan para senior leaders Datel Tangerang.
Lebih lanjut Ust Suhada mengatakan bahwa niat karena Allah adalah landasan yang harus dimiliki oleh setiah calon haji, jangan sampai niatnya belok haluan karena mendengar bujukan orang lain bahwa hajinya dimaksudkan untuk keuntungan urusan keduniaan semata. Bukankah kita selalu berikrar dalam melakukan shalat “inna shalaati wanusyuki wamahyaya wamamati lillahiRobbil’alamin” Sesungguhnya shalatku ibadahku hidup dan matiku karena Allah.
Pernah suatu ketikan seorang jemaah haji dari Indonesia dengan usia yang cukup uzur (seorang nenek) datang kepada saya kata Ust. “Ustat tolong doain saya supaya saya mati di Mekah” kemudian saya bertanya emangnya Nenek bisa bahasa arab ? tidak kata nenek kemudian kata ustat kalau nenek mati di Mekah sementara nenek tidak bisa bahasa arab nenek tidak akan bisa masuk surga kata Ust, emangnya kenapa karena malaikat mekah tidak bisa bahasa Indonesia nanyanya pakai bahasa Arab. Akhirnya nenek mungurungkan niatnya dan berdoa agar tetap bisa mati di Indonesia. Oleh karena itu masih kata Ust. Janganlah kita pergi haji hanya karena keinginan mati di Mekah
Selain itu kita sering melakukan hal-hal yang tidak penting, satu contoh banyak para peserta haji ketika selesai melakukan wukuf di padang arafah di saat menunggu matahari tenggelam banyak yang melakukan foto-foto, padahan waktu tersebut termasuk waktu-waktu mustajab (waktu –waktu dikabulkan doa) dan bagi yang menginginkan menjadi haji mabrur akan sangat baik dan bijaksana bila tidak membawa Tustel (alat foto) sehingga waktu tersebut bisa di manfaatkan untuk lebih banyak zikir dan berdoa.