Apa Itu Zero Trust? Cara Kerja dan Manfaatnya

Diposting pada : 2026-05-19 | Tags :

 Ilustrasi sistem keamanan zero trust yang memverifikasi setiap pengguna dan perangkat sebelum memberikan akses ke jaringan perusahaan.

Transformasi digital membuat perusahaan semakin bergantung pada layanan cloud, aplikasi online, perangkat mobile, hingga sistem kerja hybrid. Namun di balik kemudahan tersebut, ancaman siber juga berkembang semakin kompleks.

Serangan phishing, ransomware, pencurian identitas, hingga kebocoran data kini tidak hanya menargetkan perusahaan besar, tetapi juga organisasi skala menengah dan kecil.

Menurut laporan IBM dalam Cost of a Data Breach Report, biaya rata-rata kebocoran data global terus meningkat setiap tahun seiring tingginya risiko serangan siber terhadap infrastruktur digital perusahaan.

Kondisi ini membuat pendekatan keamanan tradisional mulai dianggap kurang efektif. Sistem lama umumnya mengandalkan konsep “trusted internal network”, yaitu menganggap pengguna di dalam jaringan perusahaan sebagai pihak yang aman.

Padahal, ancaman siber modern justru sering berasal dari akun internal yang diretas atau perangkat yang telah terinfeksi malware. Karena itu, banyak organisasi mulai menerapkan konsep zero trust sebagai pendekatan keamanan siber modern yang lebih ketat dan adaptif.

Baca Juga: Tips Memilih Layanan Cyber Security yang Tepat untuk Korporasi

 

Apa Itu Zero Trust?

Zero trust adalah model keamanan siber yang menerapkan prinsip “never trust, always verify” atau “jangan pernah langsung percaya, selalu lakukan verifikasi”.

Dalam konsep ini, setiap pengguna, perangkat, aplikasi, maupun sistem harus melalui proses autentikasi dan validasi sebelum memperoleh akses ke jaringan atau data tertentu, meskipun berada di dalam lingkungan internal perusahaan.

Menurut National Institute of Standards and Technology (NIST), zero trust merupakan pendekatan keamanan yang mengasumsikan tidak ada pengguna atau perangkat yang otomatis dapat dipercaya.

Artinya, seluruh akses harus diverifikasi secara terus-menerus berdasarkan identitas pengguna, kondisi perangkat, lokasi akses, hingga perilaku aktivitas digital.

Model ini menjadi semakin penting karena banyak perusahaan kini menggunakan:

  • Layanan cloud
  • Perangkat kerja pribadi (BYOD)
  • Aplikasi SaaS
  • Sistem kerja remote dan hybrid

Perubahan tersebut membuat batas jaringan tradisional menjadi semakin terbuka sehingga perusahaan membutuhkan sistem keamanan yang lebih fleksibel dan dinamis.

Cara Kerja Zero Trust

Zero trust bekerja dengan menerapkan beberapa lapisan verifikasi dan kontrol keamanan untuk memastikan hanya pihak yang memiliki otorisasi yang dapat mengakses sistem tertentu.

Berikut beberapa komponen utama dalam penerapan zero trust:

Verifikasi Identitas Pengguna

Setiap pengguna harus melalui proses autentikasi sebelum memperoleh akses ke sistem perusahaan.

Metode verifikasi yang digunakan dapat berupa:

  • Password
  • One-Time Password (OTP)
  • Biometrik
  • Multi-Factor Authentication (MFA)

Menurut Microsoft, penggunaan MFA dapat membantu mengurangi risiko pengambilalihan akun secara signifikan karena akses tidak hanya bergantung pada password saja.

Dengan sistem ini, akun yang dicuri tidak otomatis dapat digunakan untuk masuk ke jaringan perusahaan.

Pemeriksaan Keamanan Perangkat

Dalam konsep zero trust, perangkat yang digunakan untuk mengakses sistem juga harus diverifikasi. Sistem akan memeriksa berbagai aspek keamanan perangkat seperti:

  • Versi sistem operasi
  • Status antivirus
  • Patch keamanan terbaru
  • Potensi malware

Jika perangkat dianggap tidak aman atau berisiko, akses dapat dibatasi atau ditolak secara otomatis.

Pembatasan Hak Akses

Zero trust menggunakan prinsip least privilege access, yaitu pengguna hanya memperoleh akses sesuai kebutuhan pekerjaannya.

Sebagai contoh, tim keuangan tidak memiliki akses ke sistem pengembangan aplikasi, sementara staf Human Resources (HR) tidak dapat membuka database internal tertentu.

Pembatasan ini membantu meminimalkan risiko penyalahgunaan akses maupun kebocoran data internal.

Pemantauan Aktivitas secara Real-Time

Sistem zero trust tidak hanya melakukan verifikasi saat login, tetapi juga terus memantau aktivitas pengguna dan perangkat secara real-time. Jika sistem mendeteksi aktivitas mencurigakan seperti:

  • Login dari lokasi tidak biasa
  • Percobaan akses berulang
  • Transfer data dalam jumlah besar

Sistem keamanan dapat langsung memblokir akses atau meminta verifikasi tambahan. Menurut Cisco, pemantauan berkelanjutan menjadi salah satu elemen penting dalam mendeteksi ancaman siber modern secara lebih cepat.

Baca Juga: Apa Itu Cyber Security Telkom? Sistem Keamanan Digital Terintegrasi

Manfaat Zero Trust bagi Perusahaan

Penerapan zero trust memberikan berbagai manfaat bagi organisasi yang ingin meningkatkan perlindungan data dan sistem digital mereka.

Mengurangi Risiko Kebocoran Data

Karena seluruh akses harus diverifikasi secara ketat, peluang pencurian atau penyalahgunaan data menjadi lebih kecil. Selain itu, pembatasan hak akses membantu mencegah penyebaran ancaman di dalam jaringan internal perusahaan.

Mendukung Sistem Kerja Hybrid dan Remote

Pola kerja hybrid membuat karyawan mengakses sistem perusahaan dari berbagai lokasi dan perangkat. Zero trust membantu memastikan keamanan akses tetap terjaga meski pengguna bekerja dari rumah, coworking space, atau jaringan publik.

Mempermudah Pengawasan dan Audit Keamanan

Tim IT dapat memantau aktivitas pengguna secara lebih detail, mulai dari perangkat yang digunakan, lokasi login, hingga data yang diakses. Hal ini membantu proses audit keamanan dan investigasi insiden siber menjadi lebih transparan.

Meningkatkan Keamanan Cloud

Banyak perusahaan kini menyimpan data dan aplikasi di cloud computing. Zero trust membantu melindungi akses ke layanan cloud agar tidak mudah dimasuki pihak tidak bertanggung jawab, terutama ketika pengguna mengakses sistem dari berbagai perangkat dan lokasi.

Tantangan Implementasi Zero Trust

Meski menawarkan keamanan yang lebih kuat, penerapan zero trust bukan proses yang instan. Perusahaan perlu melakukan berbagai penyesuaian seperti:

  • Memperbarui infrastruktur keamanan
  • Mengatur ulang hak akses pengguna
  • Meningkatkan sistem autentikasi
  • Mengedukasi karyawan terkait keamanan siber

Selain itu, implementasi zero trust juga memerlukan investasi teknologi dan integrasi dengan sistem yang sudah ada sebelumnya.

Namun, di tengah meningkatnya ancaman siber global, banyak organisasi mulai melihat zero trust sebagai investasi jangka panjang untuk melindungi aset digital perusahaan.

Kenapa Zero Trust Semakin Penting?

Menurut Gartner, model keamanan berbasis identitas seperti zero trust diperkirakan akan menjadi standar utama dalam keamanan siber modern seiring meningkatnya penggunaan cloud dan sistem kerja hybrid.

Pendekatan ini membantu perusahaan beradaptasi dengan lingkungan digital yang semakin terbuka tanpa mengorbankan keamanan data.

Dengan ancaman siber yang terus berkembang, perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan firewall atau perlindungan jaringan tradisional. Dibutuhkan sistem keamanan yang mampu memverifikasi setiap akses secara dinamis dan berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya ancaman siber dan kompleksitas sistem digital modern, perusahaan membutuhkan solusi keamanan yang mampu melindungi akses, data, dan infrastruktur secara menyeluruh.

Melalui layanan enterprise digital solution, Telkom Indonesia menghadirkan berbagai solusi teknologi dan keamanan digital yang dapat membantu perusahaan memperkuat sistem operasional di era transformasi digital.

Baca Juga: Keunggulan Cyber Security Telkom bagi Bisnis