Cara Backup Data Otomatis di Cloud untuk Keamanan Data

Diposting pada : 2026-10-16

 Cara backup data otomatis di cloud untuk menjaga keamanan

Kehilangan data dapat menghambat operasional perusahaan, mulai dari transaksi pelanggan yang terganggu hingga dokumen bisnis yang tidak bisa diakses. Penyebabnya beragam, seperti kerusakan perangkat, kesalahan pengguna, gangguan sistem, dan serangan siber seperti ransomware.

Salah satu cara mengurangi risiko tersebut adalah menerapkan cara backup data otomatis di cloud. Dengan pencadangan terjadwal, perusahaan dapat menyimpan salinan data secara berkala tanpa bergantung sepenuhnya pada proses manual.

Namun, sistem backup yang efektif tidak cukup hanya berjalan otomatis. Perusahaan juga perlu memastikan salinan data terlindungi, tersedia saat dibutuhkan, dan dapat dipulihkan dengan baik.

Baca Juga: Edge Computing: Pengertian, Manfaat, dan Bedanya dengan Cloud

Apa Itu Backup Data Otomatis di Cloud?

Backup data otomatis di cloud adalah proses menyalin data dari perangkat, server, aplikasi, atau basis data ke penyimpanan berbasis cloud berdasarkan jadwal dan kebijakan yang telah ditentukan. Data yang dicadangkan dapat mencakup dokumen operasional, basis data pelanggan, catatan transaksi, hingga konfigurasi sistem.

Backup berbeda dari sinkronisasi cloud. Sinkronisasi menjaga agar file di beberapa perangkat atau lokasi tetap sama. Jika file terhapus atau rusak, perubahan tersebut dapat ikut tersinkronisasi. Sebaliknya, sistem backup yang dirancang dengan baik menyediakan salinan cadangan dan riwayat versi sesuai kebijakan retensi sehingga data dapat dipulihkan ke kondisi sebelumnya.

Panduan keamanan ransomware dari Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) Amerika Serikat juga menekankan pentingnya menyimpan backup yang terenkripsi, menjaga salinan yang tidak mudah diakses penyerang, dan menguji pemulihan secara berkala.

Cara Backup Data Otomatis di Cloud

Penerapan backup otomatis perlu dimulai dari pemahaman terhadap kebutuhan data perusahaan. Berikut langkah yang dapat dilakukan.

1. Identifikasi dan Prioritaskan Data Penting

Petakan seluruh data yang digunakan dalam operasional, termasuk basis data transaksi, dokumen keuangan, data pelanggan, aplikasi bisnis, dan konfigurasi server. Setelah itu, tentukan prioritas pemulihan berdasarkan dampak yang ditimbulkan jika data tidak tersedia.

Data transaksi yang terus berubah, misalnya, mungkin membutuhkan pencadangan lebih sering daripada dokumen arsip. Pemetaan ini membantu perusahaan menentukan kapasitas penyimpanan, jadwal backup, dan target pemulihan yang sesuai.

2. Pilih Layanan Cloud Backup yang Sesuai

Pilih layanan yang kompatibel dengan sistem operasi, server, aplikasi, dan basis data yang digunakan perusahaan. Periksa apakah layanan mendukung backup otomatis, enkripsi, pengaturan retensi, pemantauan status, serta pemulihan data sesuai kebutuhan.

Perusahaan juga perlu memahami model layanan yang digunakan. MyTEnS Telkom menyediakan layanan Infrastructure as a Service (IaaS) dengan pilihan private cloud, public cloud, dan hybrid cloud untuk berbagai kebutuhan infrastruktur, termasuk backup dan disaster recovery. Kebutuhan teknis dan cakupan layanan tetap perlu dikonfirmasi sebelum implementasi.

3. Atur Jadwal dan Kebijakan Backup

Frekuensi backup perlu disesuaikan dengan tingkat perubahan data dan toleransi perusahaan terhadap kehilangan informasi. Pencadangan harian mungkin memadai untuk sebagian dokumen, sedangkan sistem transaksi yang kritis dapat membutuhkan pencadangan lebih sering atau replikasi data dengan mekanisme tersendiri.

Selain jadwal, tentukan masa penyimpanan salinan cadangan atau retensi. Kebijakan ini mengatur berapa lama data disimpan dan kapan salinan lama dapat dihapus. Pastikan jadwal tidak mengganggu performa sistem utama dan proses backup yang gagal dapat memicu notifikasi kepada tim terkait.

4. Terapkan Enkripsi dan Kontrol Akses

Data cadangan tetap berisiko jika akun administrator diambil alih atau akses penyimpanan tidak dikelola dengan baik. Karena itu, gunakan enkripsi saat data dikirim maupun disimpan apabila tersedia, batasi hak akses berdasarkan tanggung jawab pengguna, dan aktifkan autentikasi multifaktor untuk akun penting.

CISA juga merekomendasikan perlindungan backup dari penghapusan atau perubahan yang tidak sah, misalnya melalui fitur immutable backup atau penguncian objek jika didukung layanan. Untuk mengurangi risiko ransomware, perusahaan sebaiknya memiliki salinan yang terisolasi dari sistem utama atau menggunakan mekanisme backup terpisah yang tidak dapat diakses penyerang dengan mudah.

5. Terapkan Strategi Beberapa Salinan Data

Jangan mengandalkan satu salinan backup saja. Salah satu pendekatan yang dikenal adalah strategi 3-2-1: menyimpan tiga salinan data, menggunakan dua jenis media atau lingkungan penyimpanan, dan menempatkan satu salinan di lokasi berbeda.

Dalam implementasi modern, perusahaan dapat mengombinasikan penyimpanan utama, backup lokal, dan salinan di cloud atau lokasi terpisah. Arsitekturnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, biaya, serta kemampuan pemulihan. Salinan tambahan akan lebih bermanfaat jika kredensial dan aksesnya juga dipisahkan dari sistem utama.

6. Pantau Status Backup dan Uji Pemulihan

Status backup yang menunjukkan proses selesai belum tentu membuktikan seluruh data dapat dipulihkan. Perusahaan perlu memeriksa log, notifikasi kegagalan, integritas file, serta keberhasilan pencadangan sesuai jadwal.

Lakukan uji pemulihan secara berkala dengan mengambil sampel data atau menjalankan simulasi pemulihan sistem. National Institute of Standards and Technology (NIST) melalui panduan keamanan infrastruktur penyimpanan menekankan pengujian pemulihan untuk memastikan target waktu pemulihan dapat dipenuhi. Hasil pengujian sebaiknya dicatat agar kelemahan dalam prosedur backup dapat segera diperbaiki.

Baca Juga: Keunggulan Cloud Telkom bagi Perusahaan di Era Digital

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Layanan Cloud Backup

Selain fitur teknis, perusahaan perlu menilai beberapa faktor sebelum menentukan penyedia layanan.

Recovery Time Objective dan Recovery Point Objective

Recovery Time Objective (RTO) adalah target waktu maksimal untuk memulihkan layanan setelah gangguan. Sementara itu, Recovery Point Objective (RPO) menunjukkan seberapa jauh kehilangan data yang masih dapat ditoleransi, biasanya diukur berdasarkan waktu.

Keduanya membantu perusahaan menentukan frekuensi backup dan metode pemulihan yang dibutuhkan. Sistem yang harus segera beroperasi kembali tentu memerlukan perencanaan berbeda dari sistem arsip yang tidak digunakan setiap saat.

Keamanan, Kepatuhan, dan Lokasi Data

Periksa kebijakan akses, enkripsi, retensi, lokasi penyimpanan, serta prosedur pemulihan dari penyedia layanan. Jika backup mencakup data pribadi, perusahaan juga perlu memperhatikan kewajiban yang relevan dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Penerapan backup merupakan bagian dari pengelolaan data, tetapi tidak otomatis membuat perusahaan memenuhi seluruh kewajiban pelindungan data.

Skalabilitas dan Biaya

Pertumbuhan volume data dapat meningkatkan kebutuhan kapasitas, transfer, dan masa retensi. Karena itu, hitung biaya secara menyeluruh, termasuk penyimpanan, pemulihan, layanan tambahan, dan dukungan teknis. Pastikan pula kapasitas dapat ditingkatkan sesuai perkembangan bisnis.

Dukung Backup Data Perusahaan dengan Cloud Computing Telkom

Strategi backup membutuhkan infrastruktur yang mampu mendukung kebutuhan penyimpanan, ketersediaan, dan pemulihan data. Melalui MyTEnS Data Center & Cloud Services, Telkom menyediakan layanan infrastruktur dan cloud untuk kebutuhan perusahaan, termasuk IaaS serta layanan Disaster Recovery Planning.

Layanan disaster recovery dapat menjadi bagian dari perencanaan pemulihan ketika terjadi gangguan pada sistem atau pusat data. Namun, perusahaan tetap perlu menentukan kebijakan backup, jadwal pencadangan, pengamanan akses, dan prosedur pemulihan yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya.

Pada akhirnya, cara backup data otomatis di cloud yang efektif bukan sekadar mengaktifkan pencadangan terjadwal. Perusahaan perlu menggabungkan pengaturan backup yang tepat, perlindungan terhadap akses tidak sah, pemantauan rutin, dan pengujian pemulihan agar data tetap tersedia saat dibutuhkan.

Baca Juga: Cloud Telkom: Infrastruktur Cloud Aman dan Scalable untuk Enterprise