Cara Kerja IP Transit dalam Mendukung Konektivitas Internet Global
![]()
Internet global tersusun dari ribuan jaringan yang saling terhubung. Ketika sebuah perusahaan mengoperasikan website, aplikasi, layanan cloud, atau platform digital yang harus diakses dari berbagai wilayah, jaringan perusahaan perlu memiliki jalur konektivitas menuju jaringan internet lainnya.
Di sinilah IP Transit berperan. Layanan ini menyediakan interkoneksi jaringan menuju internet global dengan dukungan routing BGP, blok IP, dan Autonomous System (AS) milik pelanggan.
MyCarrier Telkom menjelaskan IP Transit sebagai layanan interkoneksi berskala besar yang ditujukan bagi pelanggan dengan kebutuhan jaringan dan sumber daya internet sendiri.
Memahami cara kerja IP Transit berarti memahami bagaimana jaringan perusahaan bertukar informasi routing, bagaimana router menentukan jalur trafik, serta bagaimana konektivitas tersebut memungkinkan data bergerak dari satu jaringan ke jaringan lainnya.
Baca Juga: IP Transit Telkom: Koneksi Internet Global dengan Bandwidth Besar
Cara Kerja IP Transit
Secara sederhana, IP Transit menghubungkan jaringan perusahaan dengan jaringan provider yang memiliki konektivitas ke berbagai jaringan internet global. Proses tersebut tidak hanya bergantung pada kapasitas bandwidth, tetapi juga pada mekanisme routing yang memungkinkan jaringan mengetahui ke mana trafik harus diteruskan.
BGP atau Border Gateway Protocol menjadi komponen penting dalam proses ini. Menurut IETF, BGP merupakan protokol inter-Autonomous System yang digunakan untuk bertukar informasi mengenai keterjangkauan jaringan antar-AS. Informasi tersebut membantu jaringan membangun gambaran mengenai konektivitas dan menentukan jalur berdasarkan kebijakan routing.
1. Jaringan Perusahaan Terhubung ke Provider
Proses dimulai ketika router perusahaan terhubung ke jaringan provider IP Transit. Koneksi tersebut menjadi jalur bagi trafik yang keluar dari jaringan perusahaan menuju internet maupun trafik yang datang dari jaringan internet menuju perusahaan.
Untuk perusahaan yang mengoperasikan website atau aplikasi publik, misalnya, pengguna dari berbagai jaringan internet dapat mengakses layanan tersebut melalui rangkaian jaringan yang pada akhirnya terhubung ke jaringan perusahaan.
MyCarrier Telkom menyebut layanan IP Transit ditujukan antara lain bagi ISP, perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap koneksi internet, instansi pemerintah, dan sektor pendidikan.
2. Router Bertukar Informasi melalui BGP
Setelah koneksi tersedia, router dapat membentuk sesi BGP dengan router provider untuk bertukar informasi routing.
Informasi yang dipertukarkan mencakup prefix IP dan atribut jalur yang membantu router memahami jaringan mana yang dapat dijangkau melalui suatu koneksi. BGP tidak sekadar mencari jalur dengan jumlah hop paling sedikit, tetapi bekerja berdasarkan informasi rute dan kebijakan routing yang diterapkan oleh masing-masing jaringan.
Karena itu, pengelolaan BGP menjadi bagian penting bagi perusahaan yang membutuhkan kontrol lebih besar atas konektivitas internetnya.
3. ASN Mengidentifikasi Jaringan
Dalam ekosistem BGP, Autonomous System Number (ASN) digunakan sebagai identitas bagi sebuah Autonomous System. APNIC menjelaskan bahwa ASN mengidentifikasi jaringan yang bertukar informasi routing dengan jaringan lain di internet.
Pada layanan IP Transit Telkom, pelanggan dapat menggunakan blok IP dan AS milik pelanggan untuk kebutuhan routing BGP. Artinya, perusahaan yang memiliki sumber daya internet sendiri dapat mengelola identitas dan pengumuman jaringan melalui koneksi IP Transit tersebut.
4. Prefix IP Diumumkan melalui BGP
Perusahaan dapat mengumumkan prefix IP yang dimilikinya kepada provider melalui BGP. Informasi tersebut kemudian dapat diteruskan ke jaringan lain sesuai kebijakan routing yang berlaku.
Sebaliknya, perusahaan juga menerima informasi mengenai jaringan yang dapat dijangkau melalui provider. Dengan mekanisme tersebut, jaringan perusahaan dan jaringan lain di internet dapat saling mengetahui lokasi jaringan yang ingin dicapai.
APNIC menjelaskan bahwa operator jaringan menggunakan BGP untuk mengumumkan address space mereka ke internet sekaligus mempelajari prefix yang diumumkan oleh jaringan lainnya.
5. Router Memilih dan Meneruskan Trafik
Ketika pengguna mengirim permintaan ke server perusahaan, router akan menggunakan informasi routing yang tersedia untuk menentukan ke mana paket data harus diteruskan.
Sebagai ilustrasi, ketika pengguna mengakses website perusahaan:
Pengguna → ISP → jaringan internet → provider IP Transit → jaringan perusahaan → server
Untuk trafik keluar, arah perjalanannya menjadi sebaliknya. Server perusahaan mengirimkan paket melalui router perusahaan, kemudian trafik diteruskan melalui jaringan IP Transit menuju jaringan tujuan.
Jalur aktual tidak selalu sama untuk setiap tujuan karena keputusan routing dipengaruhi oleh informasi BGP dan kebijakan masing-masing jaringan.
Baca Juga: Keunggulan IP Transit Telkom untuk Bisnis Skala Besar
Mengapa BGP Penting dalam IP Transit?
BGP menjadi salah satu komponen utama karena internet bukan merupakan satu jaringan yang dikendalikan oleh satu organisasi. Internet terdiri dari berbagai Autonomous System yang dikelola oleh operator berbeda dan perlu bertukar informasi mengenai jaringan yang dapat mereka jangkau.
Dalam konteks IP Transit, BGP memungkinkan perusahaan dan provider bertukar informasi routing secara dinamis. Ketika terjadi perubahan pada kondisi jaringan, informasi routing juga dapat berubah sehingga router dapat menyesuaikan keputusan penerusan trafik.
Namun, BGP sendiri tidak otomatis menjamin keamanan routing. APNIC mencatat bahwa BGP pada dasarnya tidak memiliki mekanisme kepercayaan bawaan sehingga risiko seperti route leak dan prefix hijacking tetap perlu ditangani melalui mekanisme keamanan tambahan.
Salah satu pendekatan yang berkembang adalah RPKI (Resource Public Key Infrastructure). Melalui Route Origin Authorization (ROA) dan Route Origin Validation (ROV), jaringan dapat memvalidasi apakah suatu ASN memang berwenang mengumumkan prefix tertentu. Perkembangan keamanan routing juga terus berlangsung, termasuk pembahasan ASPA untuk membantu memvalidasi AS path.
Manfaat IP Transit bagi Jaringan Perusahaan
Kebutuhan IP Transit biasanya muncul ketika konektivitas internet menjadi bagian penting dari operasional jaringan dan perusahaan membutuhkan kapasitas serta kontrol routing yang lebih besar.
Mendukung Trafik Internet Berskala Besar
IP Transit ditujukan untuk kebutuhan interkoneksi internet dalam kapasitas besar. MyCarrier Telkom menyebut layanan ini menyediakan bandwidth 1:1 ke titik referensi hingga upstream provider Telkom.
Memberikan Fleksibilitas Pengelolaan IP dan Routing
Penggunaan blok IP dan AS milik pelanggan memberikan keleluasaan lebih besar dalam pengelolaan sumber daya internet dan routing perusahaan. Hal ini relevan bagi organisasi yang mengelola jaringan secara mandiri atau memiliki kebutuhan routing yang kompleks.
Mendukung Redundansi Jaringan
Ketersediaan beberapa jalur atau gateway dapat membantu meningkatkan ketahanan konektivitas. MyCarrier Telkom menyebut redundant gateway sebagai salah satu manfaat layanan IP Transit untuk meningkatkan performa jaringan ISP.
Untuk perusahaan dengan kebutuhan availability tinggi, desain redundansi tetap perlu dirancang secara menyeluruh, termasuk perangkat, link, provider, dan lokasi koneksi.
IP Transit Telkom untuk Mendukung Kebutuhan Konektivitas Global
IP Transit Telkom dirancang untuk mendukung konektivitas jaringan menuju internet global bagi pelanggan dengan kebutuhan bandwidth besar dan pengelolaan jaringan yang lebih mandiri. Layanan ini mendukung routing BGP menggunakan blok IP dan Autonomous System milik pelanggan serta menyediakan bandwidth dengan rasio 1:1 ke titik referensi.
Untuk kebutuhan trafik yang dinamis, MyCarrier Telkom juga menyediakan IP Transit Burstable yang mendukung BGP menggunakan ASN pelanggan. Layanan ini menyediakan kapasitas tambahan hingga 10 kali bandwidth yang dikomitmenkan, dengan pengukuran penggunaan menggunakan metode 95th percentile. Dukungan IPv6 juga tersedia untuk kebutuhan jaringan yang menggunakan protokol IPv4 maupun IPv6.
Dengan memahami cara kerja IP Transit, perusahaan dapat melihat bahwa kebutuhan konektivitas internet tidak hanya berkaitan dengan kapasitas bandwidth. Routing BGP, pengelolaan prefix IP dan ASN, kapasitas jaringan, karakteristik trafik, redundansi, serta dukungan IPv6 perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari arsitektur jaringan secara keseluruhan.
Pemilihan layanan yang sesuai dapat membantu perusahaan membangun konektivitas internet yang mendukung kebutuhan operasional sekaligus perkembangan infrastruktur digital dalam jangka panjang. Untuk mengetahui solusi konektivitas internet global yang tersedia bagi kebutuhan bisnis, pelajari lebih lanjut IP Transit MyCarrier Telkom.
Baca Juga: Layanan IP Transit Telkom: Akses Jaringan Global dan Domestik