Cara Memilih Data Center Perusahaan yang Tepat

Diposting pada : 2026-09-29 | Tags :

Data center perusahaan yang aman dan andal

Memilih data center perusahaan bukan hanya soal mencari tempat untuk menempatkan server. Data center menjadi bagian penting dari infrastruktur IT karena mendukung penyimpanan data, aplikasi, jaringan, dan berbagai sistem yang digunakan untuk menjalankan operasional bisnis.

Kesalahan dalam memilih data center dapat berdampak pada ketersediaan layanan, keamanan data, hingga biaya operasional. Karena itu, cara memilih data center perusahaan perlu dilakukan dengan melihat kebutuhan bisnis secara menyeluruh, mulai dari keamanan dan keandalan infrastruktur hingga lokasi, kapasitas, SLA, serta kemampuan pemulihan ketika terjadi gangguan.

Cara Memilih Data Center Perusahaan

Tidak ada satu model data center yang cocok untuk semua perusahaan. Kebutuhan perusahaan dengan aplikasi bisnis yang tidak terlalu kritis tentu berbeda dengan perusahaan yang mengoperasikan layanan digital 24 jam. Karena itu, evaluasi sebaiknya dimulai dari kebutuhan bisnis sebelum membandingkan fasilitas yang ditawarkan penyedia.

Evaluasi Keamanan dan Kontrol Akses

Keamanan menjadi salah satu aspek pertama yang perlu diperiksa. Evaluasi tidak hanya mencakup keamanan jaringan, tetapi juga perlindungan fisik terhadap fasilitas dan perangkat.

Perusahaan perlu mengetahui bagaimana penyedia mengatur akses ke area data center, melakukan pengawasan, mencatat aktivitas, melindungi fasilitas dari kebakaran, serta menangani risiko lingkungan. Pada sisi digital, perhatikan pula mekanisme keamanan jaringan, pengelolaan akses, perlindungan data, monitoring, dan penanganan insiden.

Pendekatan ini sejalan dengan ISO/IEC 27001:2022 yang menempatkan keamanan informasi sebagai sistem manajemen berbasis risiko untuk menjaga kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi. ISO juga menjelaskan bahwa penerapan standar tersebut mencakup kombinasi manusia, proses, dan teknologi, bukan hanya perangkat keamanan.

Baca Juga: Apa Itu Cloud Computing Telkom? Solusi Cloud untuk Bisnis Modern

Periksa Standar dan Sertifikasi yang Relevan

Standar dan sertifikasi dapat membantu perusahaan menilai apakah pengelolaan data center dilakukan berdasarkan kerangka yang terukur. Namun, jangan hanya melihat daftar logo sertifikasi yang tercantum di situs penyedia.

Periksa standar apa yang digunakan, ruang lingkupnya, siapa yang menerbitkan atau melakukan sertifikasi, serta fasilitas dan layanan apa saja yang tercakup. Untuk konteks Indonesia, SNI 8799-1:2023 saat ini berstatus berlaku dan membahas spesifikasi teknis pusat data, sedangkan SNI 8799-2:2023 membahas sistem manajemen pusat data. SNI 8799-3:2019 beserta amendemennya masih tercatat berlaku untuk panduan audit pusat data.

Untuk infrastruktur data center secara internasional, ANSI/TIA-942-C merupakan revisi terbaru standar TIA-942 yang diterbitkan pada Mei 2024. Standar tersebut mencakup antara lain aspek lokasi, arsitektur, telekomunikasi, kelistrikan, mekanikal, proteksi kebakaran, keamanan fisik, monitoring, dan redundansi.

Pastikan Infrastruktur Memiliki Redundansi

Keandalan data center sangat dipengaruhi oleh kemampuan infrastrukturnya menghadapi kegagalan komponen. Karena itu, perusahaan perlu mengetahui bagaimana penyedia menangani gangguan listrik, konektivitas, pendinginan, maupun perangkat pendukung lainnya.

UPS dan genset memang penting, tetapi evaluasi sebaiknya tidak berhenti di sana. Perusahaan juga perlu melihat apakah tersedia jalur daya dan komponen cadangan, bagaimana sistem pendinginan dirancang, serta apakah konektivitas memiliki jalur alternatif.

Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap satu titik kegagalan atau single point of failure. TIA-942-C sendiri mencakup aspek redundansi serta desain kelistrikan, mekanikal, dan infrastruktur lain yang mendukung ketahanan data center.

Pertimbangkan Lokasi dan Risiko Operasional

Lokasi data center berpengaruh terhadap keamanan fasilitas, konektivitas, akses teknisi, serta strategi pemulihan ketika terjadi gangguan. Perusahaan perlu mempertimbangkan risiko bencana di lokasi fasilitas, kualitas jaringan telekomunikasi, ketersediaan sumber listrik, akses menuju lokasi, serta jaraknya dari fasilitas data center lain jika membutuhkan skenario disaster recovery.

SNI 8799-1:2023 menjadi salah satu acuan nasional untuk spesifikasi teknis pusat data, sehingga aspek fasilitas dan infrastruktur perlu dinilai secara menyeluruh, bukan hanya dari lokasi geografisnya. Jika sistem perusahaan sangat kritis, penggunaan lokasi pemulihan yang memiliki risiko bencana berbeda dari fasilitas utama dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan.

Pastikan Monitoring dan Operasional Berjalan 24/7

Data center tidak hanya membutuhkan perangkat yang andal, tetapi juga pengelolaan operasional secara berkelanjutan. Perusahaan perlu mengetahui apakah penyedia memiliki monitoring 24/7 terhadap server, jaringan, kelistrikan, pendinginan, suhu, kelembapan, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Yang tidak kalah penting adalah mekanisme responsnya. Ketika terjadi kondisi abnormal, harus ada prosedur untuk memberikan peringatan, melakukan eskalasi, dan menangani insiden. Dengan demikian, monitoring tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk melihat kondisi fasilitas, tetapi menjadi bagian dari proses menjaga ketersediaan layanan.

Sesuaikan Kapasitas dengan Pertumbuhan Bisnis

Kapasitas data center sebaiknya tidak dihitung hanya berdasarkan kebutuhan saat ini. Pertumbuhan jumlah pengguna, aplikasi, volume data, kebutuhan storage, bandwidth, serta perangkat yang akan ditambahkan perlu diperhitungkan sejak awal.

Perusahaan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan daya dan ruang secara bertahap. Kapasitas yang terlalu besar dapat membuat perusahaan membayar sumber daya yang belum digunakan, sedangkan kapasitas yang terlalu kecil dapat menimbulkan kebutuhan ekspansi atau migrasi lebih cepat dari rencana.

Karena itu, penyedia yang menawarkan fleksibilitas scaling dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menyesuaikan infrastruktur seiring pertumbuhan bisnis.

Periksa SLA dan Dukungan Teknis

Service Level Agreement atau SLA menjelaskan komitmen penyedia terhadap layanan yang diberikan. Karena itu, perusahaan perlu membaca SLA secara detail, terutama bagian mengenai availability, waktu respons, penanganan gangguan, pemeliharaan, serta kompensasi jika tingkat layanan yang disepakati tidak tercapai.

Dukungan teknis juga perlu diperhatikan. Perusahaan sebaiknya mengetahui apakah tersedia tim operasional 24/7, bagaimana mekanisme pelaporan insiden, berapa lama waktu respons, dan bagaimana eskalasi dilakukan untuk gangguan yang bersifat kritis.

Evaluasi Disaster Recovery dan Business Continuity

Data center yang andal tetap membutuhkan rencana pemulihan ketika terjadi gangguan besar. Karena itu, perusahaan perlu menilai bagaimana backup, replikasi data, disaster recovery, dan proses pemulihan layanan disiapkan oleh penyedia.

Kebutuhan tersebut sebaiknya diterjemahkan ke dalam target seperti Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO). RTO menentukan berapa lama layanan dapat ditoleransi sebelum harus kembali berjalan, sedangkan RPO berkaitan dengan seberapa banyak kehilangan data yang masih dapat diterima.

Pendekatan ini sejalan dengan ISO 22301:2019 yang menyediakan kerangka untuk membangun dan meningkatkan sistem manajemen keberlangsungan bisnis agar organisasi mampu mempersiapkan diri, merespons, dan pulih dari gangguan. ISO saat ini juga sedang mengembangkan edisi baru ISO 22301, tetapi versi 2019 masih tercatat sebagai standar yang dipublikasikan.

Baca Juga: Cloud Computing: Cara Kerja, Jenis, dan Keunggulannya

Memilih Data Center Sesuai Kebutuhan dan Anggaran Perusahaan

Harga memang penting dalam memilih layanan data center, tetapi biaya yang lebih rendah belum tentu menghasilkan total biaya yang lebih rendah. Perusahaan perlu melihat keseluruhan biaya dan risiko, termasuk biaya ekspansi kapasitas, kebutuhan konektivitas, downtime, pemulihan ketika terjadi gangguan, serta kebutuhan dukungan teknis.

Selain biaya, perusahaan perlu memastikan layanan yang dipilih sesuai dengan tingkat kritikalitas sistem. Infrastruktur untuk aplikasi yang harus tersedia 24/7 tentu membutuhkan pertimbangan ketahanan yang berbeda dari sistem internal yang masih dapat mengalami downtime terjadwal.

Pada akhirnya, cara memilih data center perusahaan bukan sekadar membandingkan kapasitas server atau harga layanan. Keamanan, standar yang digunakan, redundansi infrastruktur, lokasi, monitoring, kapasitas, SLA, dukungan teknis, dan kesiapan disaster recovery perlu dinilai sebagai satu kesatuan.

Dengan membandingkan kebutuhan bisnis, risiko, tingkat layanan, dan biaya secara bersamaan, perusahaan dapat memilih infrastruktur yang tidak hanya mampu menampung data dan aplikasi, tetapi juga mendukung keamanan, ketersediaan, skalabilitas, dan keberlangsungan operasional dalam jangka panjang.

Untuk perusahaan yang membutuhkan dukungan dalam menyiapkan infrastruktur data center dan cloud, MyTEnS menyediakan Data & Cloud Services yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan infrastruktur digital perusahaan.

Baca Juga: Kenapa Cloud Computing Penting untuk Perusahaan Besar?