Disaster Recovery Data Center untuk Menjaga Keberlangsungan Operasional Bisnis

Diposting pada : 2026-09-30 | Tags :

 Disaster recovery data center untuk kelangsungan bisnis.

Ketergantungan bisnis terhadap sistem digital membuat ketersediaan data center menjadi bagian penting dari operasional. Ketika data center utama mengalami gangguan, akses terhadap aplikasi, database, layanan digital, hingga sistem internal perusahaan dapat ikut terhenti.

Gangguan tersebut tidak selalu disebabkan oleh bencana alam. Kegagalan perangkat, gangguan listrik, masalah jaringan, serangan siber, maupun kesalahan operasional juga dapat memengaruhi ketersediaan sistem.

Karena itu, perusahaan perlu memiliki strategi pemulihan yang disiapkan sebelum insiden terjadi. Salah satunya melalui layanan disaster recovery data center, yaitu layanan yang menyediakan infrastruktur, teknologi, dan proses untuk membantu memulihkan sistem serta data ketika infrastruktur utama mengalami gangguan.

Kebutuhan ini sejalan dengan tata kelola sistem elektronik di Indonesia. Dalam regulasi pemerintah, rencana keberlangsungan kegiatan diperlukan untuk menghadapi gangguan atau bencana, sementara disaster recovery center didefinisikan sebagai fasilitas untuk memulihkan data, informasi, dan fungsi penting sistem elektronik yang terganggu atau rusak akibat bencana.

Baca Juga: Apa Itu Cloud Computing Telkom? Solusi Cloud untuk Bisnis Modern

Apa Itu Disaster Recovery Data Center?

Disaster recovery data center adalah sistem pemulihan yang disiapkan untuk menjaga keberlangsungan sistem ketika data center utama tidak dapat digunakan. Sistem tersebut dapat mencakup infrastruktur komputasi, storage, jaringan, sistem backup, mekanisme replikasi, hingga prosedur pemindahan layanan dari lokasi utama ke lokasi pemulihan.

Konsep ini berbeda dengan backup data. Backup membuat salinan data agar dapat digunakan kembali ketika data utama hilang atau rusak. Sementara itu, disaster recovery memiliki cakupan yang lebih luas karena mencakup lingkungan, sistem, proses, dan prosedur untuk mengembalikan operasional.

Disaster Recovery Planning dapat mencakup backup data dan aplikasi ke cloud atau penyimpanan lokal serta metode failover untuk membantu mencegah downtime koneksi ketika terjadi bencana. Dengan demikian, disaster recovery tidak berhenti pada pertanyaan “di mana data cadangan disimpan?”, tetapi juga “seberapa cepat sistem dapat kembali digunakan dan bagaimana proses pemulihannya dijalankan?”.

Pentingnya Layanan Disaster Recovery Data Center bagi Bisnis

Ketergantungan terhadap sistem digital membuat gangguan pada infrastruktur TI dapat berdampak langsung pada operasional bisnis. Karena itu, perusahaan perlu memiliki strategi pemulihan yang mampu menjaga ketersediaan sistem, data, dan aplikasi ketika terjadi gangguan.

Layanan disaster recovery data center membantu perusahaan menyiapkan mekanisme pemulihan tersebut sesuai dengan tingkat kritikalitas dan kebutuhan operasional.

Mengurangi Dampak Downtime

Ketika aplikasi atau sistem utama berhenti, dampaknya dapat meluas ke berbagai aktivitas bisnis. Transaksi dapat tertunda, karyawan kehilangan akses ke aplikasi kerja, dan pelanggan dapat mengalami gangguan layanan.

Disaster recovery membantu perusahaan menyiapkan skenario pemulihan sebelum gangguan terjadi. Sistem yang bersifat kritikal dapat ditentukan sejak awal sehingga proses pemulihan dapat dilakukan berdasarkan prioritas.

Bagi perusahaan dengan ketergantungan tinggi terhadap teknologi, kemampuan untuk memulihkan layanan bukan sekadar persoalan teknis. Hal ini berkaitan langsung dengan kemampuan perusahaan mempertahankan operasional ketika kondisi tidak berjalan normal.

Menjaga Ketersediaan Data dan Aplikasi

Data perusahaan perlu tetap tersedia meskipun infrastruktur utama mengalami gangguan. Karena itu, strategi disaster recovery biasanya mengatur bagaimana data direplikasi atau dicadangkan, bagaimana aplikasi dipulihkan, serta bagaimana pengguna dapat kembali mengakses layanan.

Pendekatan tersebut juga dapat disesuaikan dengan tingkat kritikalitas sistem. Tidak semua aplikasi membutuhkan target pemulihan yang sama sehingga perusahaan perlu menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan operasional.

Mendukung Business Continuity

Disaster recovery merupakan salah satu bagian dari strategi business continuity. Tujuannya bukan hanya mengembalikan server atau data, tetapi membantu perusahaan mempertahankan fungsi bisnis yang paling penting selama dan setelah terjadi gangguan.

Dalam penerapan di sektor keuangan, misalnya, OJK mensyaratkan aspek seperti Business Continuity Plan, RPO, RTO, strategi backup, serta simulasi pengujian Disaster Recovery Plan dalam sejumlah ketentuan terkait penyelenggara sistem.

Baca Juga: Cloud Computing: Cara Kerja, Jenis, dan Keunggulannya

Bagaimana Disaster Recovery Data Center Bekerja?

Penerapan disaster recovery dimulai dari pemetaan sistem dan proses bisnis yang kritikal. Perusahaan perlu mengetahui aplikasi apa yang harus dipulihkan, data apa yang paling penting, siapa yang bertanggung jawab, serta berapa lama sistem dapat ditoleransi dalam kondisi tidak tersedia.

Setelah kebutuhan tersebut ditentukan, data dapat direplikasi atau dicadangkan ke lingkungan pemulihan. Ketika terjadi gangguan pada data center utama, prosedur pemulihan dijalankan sesuai skenario yang telah ditetapkan. Sistem prioritas kemudian dipulihkan dan, jika diperlukan, layanan dialihkan melalui mekanisme failover ke lingkungan alternatif.

Setelah sistem kembali tersedia, perusahaan perlu melakukan validasi untuk memastikan aplikasi, database, jaringan, dan fungsi pendukung berjalan sesuai kebutuhan. Proses kemudian dapat dikembalikan ke lingkungan utama setelah kondisi normal dan prosedur pemulihan balik atau failback dijalankan.

Pengujian berkala menjadi bagian penting dari proses tersebut. Disaster recovery plan yang tidak pernah diuji berisiko menghadapi masalah ketika benar-benar dibutuhkan. Ketentuan OJK, misalnya, memasukkan simulasi Business Continuity Plan dan pengujian Disaster Recovery Plan sebagai bagian dari pengelolaan keberlangsungan sistem.

Memahami RTO dan RPO

Dua parameter penting dalam disaster recovery adalah Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO). RTO menunjukkan target waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan sistem setelah terjadi gangguan. Sementara itu, RPO menunjukkan seberapa jauh titik waktu data yang masih dapat diterima untuk dipulihkan setelah insiden.

Misalnya, sistem dengan RTO yang ketat membutuhkan proses pemulihan yang jauh lebih cepat dibandingkan aplikasi yang masih dapat ditoleransi tidak tersedia selama beberapa jam. Begitu pula dengan RPO. Sistem transaksi yang menghasilkan data secara terus-menerus mungkin membutuhkan titik pemulihan yang lebih dekat dibandingkan sistem dengan perubahan data yang lebih jarang. Karena itu, RTO dan RPO sebaiknya ditentukan berdasarkan dampak bisnis, bukan sekadar kemampuan teknologi.

Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Layanan Disaster Recovery?

Memilih layanan disaster recovery perlu dimulai dari kebutuhan bisnis. Infrastruktur yang terlihat lengkap belum tentu sesuai jika tidak mampu memenuhi target pemulihan sistem yang diperlukan.

Infrastruktur dan Lokasi Pemulihan

Lingkungan pemulihan perlu memiliki infrastruktur yang mendukung sistem perusahaan, termasuk server, storage, jaringan, kelistrikan, pendinginan, dan fasilitas pendukung lainnya. Lokasi juga perlu dipertimbangkan agar tidak memiliki risiko gangguan yang sama dengan data center utama.

Dalam pedoman tata kelola pusat data pemerintah, perencanaan Disaster Recovery Center juga mempertimbangkan interkoneksi, risiko, biaya, serta kebutuhan layanan.

Keamanan dan Perlindungan Data

Data tetap harus dilindungi ketika sedang disimpan, direplikasi, ditransmisikan, maupun dipulihkan. Karena itu, perusahaan perlu memperhatikan kontrol akses, keamanan jaringan, perlindungan terhadap malware, serta mekanisme keamanan lain yang diterapkan pada lingkungan disaster recovery.

MyTEnS mencantumkan fitur keamanan seperti vulnerability assessment serta perlindungan antivirus dan antimalware dalam layanan Disaster Recovery Planning.

Konektivitas dan Failover

Koneksi antara data center utama dengan lingkungan pemulihan menjadi bagian penting dalam proses replikasi dan pemindahan layanan. Kapasitas jaringan perlu disesuaikan dengan volume data serta kebutuhan aplikasi.

Mekanisme failover juga perlu diperhitungkan karena menentukan bagaimana layanan dapat dialihkan ketika sistem utama mengalami gangguan.

Pengujian dan Dukungan Teknis

Disaster recovery bukan infrastruktur yang cukup disiapkan sekali lalu dibiarkan. Sistem perlu dipantau, diuji, dan disesuaikan ketika aplikasi, arsitektur TI, maupun kebutuhan bisnis berubah.

Dukungan teknis juga penting ketika perusahaan harus menjalankan skenario pemulihan. Karena itu, evaluasi sebaiknya mencakup mekanisme monitoring, pengujian, pemeliharaan, dukungan saat insiden, serta prosedur pemulihan kembali ke sistem utama.

Menyiapkan Disaster Recovery Data Center untuk Bisnis yang Lebih Tangguh

Gangguan pada data center dapat terjadi karena berbagai sebab dan waktunya tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, kesiapan pemulihan perlu dibangun sebelum perusahaan menghadapi kondisi darurat.

Layanan disaster recovery data center dapat menjadi bagian dari strategi tersebut dengan menyediakan lingkungan pemulihan, backup, mekanisme failover, dan dukungan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.

MyTEnS melalui layanan Data Center & Cloud Services menyediakan Disaster Recovery Planning sebagai bagian dari layanan data center, dengan pendekatan yang mencakup backup, disaster recovery, cloud-based virtualization, dan security.

Dengan menentukan sistem kritikal, menetapkan RTO dan RPO, memastikan keamanan serta konektivitas, dan melakukan pengujian secara berkala, perusahaan dapat membangun strategi pemulihan yang lebih terukur ketika gangguan benar-benar terjadi.

Baca Juga: Kenapa Cloud Computing Penting untuk Perusahaan Besar?