Memahami Cara Kerja MPLS VPN dalam Jaringan Perusahaan

Diposting pada : 2026-09-16 | Tags :

 Cara kerja MPLS VPN untuk konektivitas jaringan perusahaan

Ketika perusahaan memiliki kantor pusat, cabang, gudang, hingga data center di berbagai kota, kebutuhan jaringan tidak lagi sekadar menyediakan akses internet di setiap lokasi. Sistem ERP, aplikasi internal, database, komunikasi antar kantor, hingga layanan berbasis cloud membutuhkan koneksi antarjaringan yang terstruktur dan dapat dikelola.

Salah satu teknologi yang digunakan untuk membangun konektivitas tersebut adalah MPLS VPN (Multiprotocol Label Switching Virtual Private Network). Secara sederhana, MPLS VPN memungkinkan jaringan di beberapa lokasi perusahaan saling terhubung melalui jaringan milik penyedia layanan.

Trafik dari pelanggan dipisahkan dari trafik pelanggan lain melalui mekanisme routing pada perangkat PE (Provider Edge) dan VRF (Virtual Routing and Forwarding), kemudian diteruskan melalui jaringan MPLS menggunakan label. Telkom menyediakan VPN IP berbasis MPLS untuk kebutuhan jaringan privat perusahaan, termasuk koneksi antarlokasi dengan cakupan nasional.

Baca Juga: VPN IP Telkom: Jaringan Private MPLS Aman untuk Multi Cabang

Mengapa MPLS VPN Digunakan Perusahaan?

MPLS VPN merupakan layanan jaringan privat berbasis MPLS yang memungkinkan beberapa lokasi perusahaan berkomunikasi melalui jaringan provider tanpa harus membangun koneksi fisik langsung antarkantor.

Dalam arsitektur Border Gateway Protocol (BGP), yaitu protokol untuk bertukar informasi rute jaringan, pada MPLS IP VPN, perangkat Customer Edge (CE) berada di sisi pelanggan, sedangkan Provider Edge (PE) berada di sisi penyedia jaringan.

RFC 4364, dokumen teknis dari Internet Engineering Task Force (IETF) yang menjelaskan arsitektur BGP/MPLS IP VPN, menerangkan bagaimana PE menerima informasi jaringan dari CE dan menjaga agar rute dari VPN yang berbeda tetap terpisah. 

Di Indonesia, model konektivitas seperti ini relevan bagi perusahaan yang memiliki banyak lokasi. VPN IP Telkom, misalnya, menggunakan teknologi MPLS untuk membangun jaringan privat yang menghubungkan kantor pusat dan cabang. Layanan tersebut juga mendukung pola koneksi any-to-any, sehingga lokasi dalam jaringan dapat berkomunikasi tanpa harus selalu melewati kantor pusat.

Yang perlu dipahami, istilah "private" pada MPLS VPN tidak otomatis berarti seluruh data dienkripsi seperti pada VPN berbasis internet dengan mekanisme enkripsi. Fokus MPLS VPN adalah menyediakan pemisahan dan pengelolaan trafik melalui jaringan provider. 

Cara Kerja MPLS VPN

Kita ambil contoh sederhana. Seorang karyawan di kantor Jakarta ingin mengakses server yang berada di kantor Surabaya. Komputer karyawan memiliki alamat IP 10.10.1.10, sedangkan server Surabaya menggunakan 10.10.2.10.

Saat permintaan dikirim, paket data akan melewati beberapa perangkat jaringan sebelum akhirnya tiba di server tujuan. Alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Komputer Jakarta → CE Jakarta → PE Jakarta → Jaringan MPLS → PE Surabaya → CE Surabaya → Server Surabaya

Lantas, apa yang terjadi pada paket tersebut di setiap titik?

Paket Berangkat dari Kantor Jakarta

Ketika komputer Jakarta mengirim permintaan ke 10.10.2.10, paket terlebih dahulu melewati jaringan lokal kantor dan kemudian menuju CE (Customer Edge).

CE merupakan perangkat di sisi pelanggan yang menghubungkan jaringan kantor dengan jaringan provider. Setelah menerima paket, CE meneruskannya menuju PE (Provider Edge).

PE Mengenali Jaringan Pelanggan

Paket kemudian tiba di PE Jakarta. Perangkat ini berada di sisi provider dan berhubungan langsung dengan jaringan pelanggan. PE perlu mengetahui ke jaringan mana paket tersebut harus dikirim. Untuk mengelola routing dari pelanggan yang berbeda, PE menggunakan VRF (Virtual Routing and Forwarding).

Sederhananya, VRF membuat tabel routing yang terpisah untuk masing-masing jaringan VPN. Jadi, meskipun beberapa perusahaan menggunakan infrastruktur provider yang sama, informasi routing mereka tetap dikelola dalam konteks jaringan masing-masing.

Setelah mengenali bahwa 10.10.2.10 berada di jaringan perusahaan yang terhubung melalui lokasi Surabaya, PE menentukan jalur yang harus digunakan untuk meneruskan paket.

Paket Diteruskan dengan Label MPLS

Paket kemudian memasuki jaringan inti MPLS. Di bagian ini, MPLS menggunakan label untuk membantu router menentukan ke mana paket harus diteruskan berikutnya.

Jika routing IP dapat dianalogikan seperti membaca alamat tujuan pada sebuah paket, label MPLS dapat dibayangkan sebagai tanda yang membantu paket mengikuti jalur yang sudah ditentukan di dalam jaringan provider.

Label tersebut menjadi bagian penting dalam proses forwarding sehingga router MPLS dapat meneruskan paket tanpa harus memproses seluruh informasi routing pelanggan pada setiap titik.

Router P Membawa Paket Menuju Tujuan

Di dalam jaringan provider terdapat router P (Provider). Router ini tidak terhubung langsung ke jaringan pelanggan. Tugasnya adalah meneruskan paket di dalam jaringan MPLS berdasarkan label yang diterimanya.

Misalnya, perjalanan paket dari Jakarta ke Surabaya melewati:

PE Jakarta → P1 → P2 → PE Surabaya

P1 menerima paket dan menggunakan label MPLS untuk menentukan next hop. Ketika paket diteruskan ke P2, label dapat diganti sesuai dengan informasi forwarding pada router tersebut. Mekanisme ini dikenal sebagai label swapping.

Dengan demikian, router P tidak perlu mengetahui seluruh detail jaringan perusahaan. Router cukup memproses informasi yang dibutuhkan untuk membawa paket menuju PE di lokasi tujuan.

PE Surabaya Mengirim Paket ke Server

Setelah melewati jaringan inti MPLS, paket tiba di PE Surabaya. PE kemudian mengidentifikasi jaringan pelanggan yang menjadi tujuan paket dan meneruskannya ke CE Surabaya. Dari CE, paket masuk ke jaringan lokal kantor hingga akhirnya mencapai server 10.10.2.10.

Jika diringkas, perjalanan paket tersebut menjadi:

Komputer Jakarta → CE Jakarta → PE Jakarta → P1 → P2 → PE Surabaya → CE Surabaya → Server Surabaya

Dari alur tersebut, terlihat bahwa setiap komponen memiliki fungsi yang berbeda. CE menjadi penghubung antara jaringan pelanggan dan provider, PE menangani routing pelanggan dan VRF, sedangkan router P meneruskan paket di dalam jaringan MPLS menggunakan label.

Inilah yang membuat MPLS VPN mampu membawa trafik dari berbagai jaringan pelanggan melalui infrastruktur provider yang sama, sekaligus menjaga agar informasi routing masing-masing jaringan tetap terpisah.

Baca Juga: Apa Itu VPN IP Telkom? Solusi Jaringan Privat untuk Enterprise

Contoh Sederhana Cara Kerja MPLS VPN

Kembali ke contoh sebelumnya. Ketika komputer 10.10.1.10 di Jakarta mengakses server 10.10.2.10 di Surabaya:

  1. Komputer mengirim paket ke gateway jaringan.
  2. Paket diteruskan ke CE Jakarta.
  3. CE mengirim paket menuju PE Jakarta.
  4. PE mengenali jaringan pelanggan melalui VRF.
  5. PE menentukan rute menuju jaringan Surabaya.
  6. Paket diberi label yang sesuai untuk forwarding di jaringan MPLS.
  7. Router P meneruskan paket berdasarkan label.
  8. Label dapat mengalami swapping sepanjang perjalanan.
  9. Paket mencapai PE Surabaya.
  10. PE meneruskan paket ke CE Surabaya.
  11. CE mengirim paket ke jaringan lokal.
  12. Paket akhirnya mencapai server 10.10.2.10.

Ketika server Surabaya mengirim respons ke komputer Jakarta, proses berlangsung kembali dalam arah sebaliknya dengan mekanisme routing dan forwarding yang sesuai.

Memanfaatkan MPLS VPN untuk Konektivitas Jaringan Perusahaan

Jika melihat kembali perjalanan paket dari Jakarta ke Surabaya, ada dua mekanisme penting yang membuat proses tersebut dapat berjalan dengan terstruktur. VRF membantu memisahkan informasi routing antarjaringan pelanggan, sedangkan label MPLS membantu meneruskan paket melalui jaringan inti provider. Keduanya memiliki fungsi berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membangun jaringan VPN berbasis MPLS.

Bagi perusahaan, mekanisme tersebut menjadi penting ketika jaringan tidak lagi hanya digunakan untuk satu kantor. Kantor pusat, cabang, gudang, pabrik, hingga data center yang berada di lokasi berbeda membutuhkan konektivitas agar dapat saling bertukar data dan mengakses sumber daya jaringan perusahaan.

MPLS VPN dapat menjadi salah satu pendekatan untuk kebutuhan tersebut karena koneksi antar lokasi dibangun melalui jaringan provider dan dikelola sebagai bagian dari jaringan privat perusahaan. VPN IP Telkom, misalnya, menggunakan teknologi MPLS untuk menghubungkan berbagai lokasi perusahaan dan mendukung konektivitas any-to-any.

Ketika kebutuhan jaringan semakin kompleks, perusahaan juga perlu melihat lebih dari sekadar teknologi yang digunakan. Jumlah dan lokasi kantor, kapasitas bandwidth, pola trafik, kebutuhan komunikasi antar lokasi, redundansi, Quality of Service (QoS), monitoring, keamanan tambahan, serta Service Level Agreement (SLA) perlu dipertimbangkan sejak awal agar desain jaringan sesuai dengan kebutuhan operasional.

Untuk perusahaan yang memiliki banyak cabang atau lokasi operasional dan membutuhkan konektivitas antarjaringan yang terstruktur, MPLS VPN dapat menjadi bagian dari strategi infrastruktur jaringan. Pemilihan layanan yang tepat kemudian dapat disesuaikan dengan skala jaringan, kebutuhan aplikasi, serta tingkat layanan yang dibutuhkan perusahaan.

Baca Juga: Keunggulan VPN IP Telkom yang Perlu Dipahami Pemilik Bisnis