Memilih Jenis Layanan Cloud yang Tepat untuk Kebutuhan Perusahaan
![]()
Transformasi digital membuat perusahaan semakin bergantung pada infrastruktur komputasi yang fleksibel. Aplikasi bisnis, database, analitik, hingga layanan berbasis artificial intelligence (AI) membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan yang dapat mengikuti perkembangan bisnis.
Di sinilah cloud computing menjadi salah satu pilihan infrastruktur. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendefinisikan komputasi awan sebagai model penyediaan akses berdasarkan permintaan terhadap sumber daya komputasi seperti jaringan, server, penyimpanan, aplikasi, dan layanan yang dapat disediakan maupun dilepas dengan cepat.
Namun, cloud bukan satu jenis layanan yang bisa diterapkan dengan cara yang sama untuk semua perusahaan. Jenis layanan cloud untuk perusahaan perlu dipilih berdasarkan kebutuhan aplikasi, tingkat kontrol, kemampuan tim IT, karakteristik data, keamanan, hingga model operasional.
Baca Juga: Cloud Computing: Cara Kerja, Jenis, dan Keunggulannya
Memahami Jenis Layanan Cloud untuk Perusahaan
Secara umum, NIST membagi layanan cloud menjadi tiga model utama, yaitu Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS), dan Infrastructure as a Service (IaaS). Ketiganya memiliki pembagian tanggung jawab yang berbeda antara penyedia layanan dan pengguna.
Perbedaan tersebut penting karena menentukan seberapa banyak infrastruktur yang perlu dikelola sendiri oleh perusahaan.
1. Software as a Service (SaaS)
SaaS menyediakan aplikasi yang dapat digunakan melalui jaringan tanpa perusahaan harus mengelola infrastruktur dasar yang menjalankannya. Dalam model ini, penyedia layanan menangani komponen seperti server, storage, sistem operasi, dan pemeliharaan aplikasi, sementara pengguna berfokus pada pemanfaatan aplikasinya.
SaaS banyak digunakan untuk kebutuhan operasional seperti kolaborasi dan komunikasi, customer relationship management (CRM), akuntansi, human resources, pengelolaan dokumen, hingga manajemen proyek.
Model ini cocok ketika perusahaan membutuhkan aplikasi yang dapat langsung digunakan tanpa harus membangun dan mengelola seluruh infrastruktur di belakangnya.
2. Platform as a Service (PaaS)
PaaS menyediakan lingkungan untuk mengembangkan, menguji, menjalankan, dan melakukan deployment aplikasi. Provider mengelola infrastruktur dasar serta komponen platform sehingga developer dapat lebih berfokus pada kode dan fungsi aplikasi.
Model ini dapat digunakan perusahaan yang memiliki tim pengembang dan membutuhkan lingkungan pengembangan yang lebih cepat disiapkan. NIST menjelaskan bahwa pada PaaS, pelanggan memiliki kendali atas aplikasi yang mereka deploy, tetapi tidak mengelola infrastruktur cloud dasar seperti server, jaringan, dan sistem operasi. PaaS dapat mendukung pengembangan aplikasi web dan mobile, pengujian, pengelolaan database, hingga deployment fitur baru.
3. Infrastructure as a Service (IaaS)
IaaS memberikan akses terhadap resource komputasi seperti server virtual, storage, jaringan, dan kapasitas pemrosesan. Perusahaan memperoleh kontrol lebih luas untuk menjalankan sistem operasi, aplikasi, storage, dan konfigurasi tertentu.
IaaS dapat digunakan untuk menjalankan website dan aplikasi perusahaan, menyimpan data, melakukan backup dan disaster recovery, maupun menyediakan lingkungan untuk pengembangan dan pengujian.
Dibandingkan SaaS dan PaaS, IaaS memberikan fleksibilitas dan kontrol yang lebih besar. Konsekuensinya, perusahaan juga perlu memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola komponen teknologi yang berada dalam tanggung jawabnya.
Public, Private, Hybrid, atau Multi-Cloud?
Memilih jenis layanan saja belum cukup. Perusahaan juga perlu menentukan bagaimana lingkungan cloud akan diterapkan. NIST secara formal mendefinisikan public, private, community, dan hybrid cloud sebagai model deployment.
Dalam praktik bisnis saat ini, istilah multi-cloud juga banyak digunakan untuk menggambarkan penggunaan layanan dari beberapa provider cloud.
Public Cloud
Public cloud menyediakan resource komputasi melalui provider untuk digunakan oleh berbagai pelanggan. Perusahaan dapat memperoleh kapasitas sesuai kebutuhan tanpa harus membangun seluruh infrastruktur fisik sendiri.
Model ini memberikan fleksibilitas ketika perusahaan membutuhkan resource yang dapat ditingkatkan atau dikurangi mengikuti perubahan workload. Public cloud juga dapat membantu perusahaan mempercepat penyediaan infrastruktur karena sebagian besar komponen fisik dikelola oleh provider.
Private Cloud
Private cloud merupakan lingkungan cloud yang digunakan secara eksklusif oleh satu organisasi. Lingkungannya dapat dikelola perusahaan sendiri maupun pihak ketiga dan dapat berada di lokasi perusahaan atau di luar lokasi perusahaan.
Model ini dapat dipertimbangkan ketika perusahaan membutuhkan tingkat kontrol tertentu terhadap lingkungan infrastruktur, konfigurasi, atau pengelolaan workload.
Hybrid Cloud
Hybrid cloud menggabungkan lingkungan cloud yang berbeda dan menghubungkannya sehingga workload atau data dapat dikelola sesuai karakteristik masing-masing.
Pendekatan ini dapat menjadi pilihan ketika perusahaan masih memiliki sistem atau infrastruktur sendiri, tetapi pada saat yang sama ingin memanfaatkan fleksibilitas public cloud. Sebagai contoh, sistem tertentu yang membutuhkan kontrol lebih besar dapat tetap berada pada private environment, sementara workload lain yang membutuhkan skalabilitas dapat dijalankan di public cloud.
Dalam konteks Indonesia, pemilihan lingkungan cloud juga perlu memperhatikan tata kelola dan perlindungan data. Pemerintah melalui Permen Komdigi Nomor 5 Tahun 2025 mengatur penyelenggaraan sistem elektronik lingkup publik, termasuk ketentuan terkait layanan komputasi awan dalam penyelenggaraan Pusat Data Nasional.
Multi-Cloud
Multi-cloud berarti perusahaan menggunakan layanan dari lebih dari satu provider cloud. Strategi ini dapat digunakan ketika perusahaan memiliki kebutuhan workload yang berbeda atau ingin memanfaatkan kemampuan tertentu dari beberapa provider.
Namun, semakin banyak lingkungan cloud yang digunakan, semakin kompleks pula pengelolaannya. Perusahaan perlu memastikan integrasi, keamanan, identitas pengguna, jaringan, monitoring, dan biaya dapat dikelola secara terkoordinasi.
Baca Juga: Apa Itu Cloud Computing Telkom? Solusi Cloud untuk Bisnis Modern
Bagaimana Menentukan Jenis Cloud yang Tepat?
Tidak ada satu model cloud yang otomatis paling sesuai untuk semua perusahaan. Pemilihannya perlu dimulai dari workload dan tujuan bisnis.
Tentukan Aplikasi dan Workload
Langkah pertama adalah mengidentifikasi sistem apa yang akan dipindahkan atau dibangun di cloud. Aplikasi dengan kebutuhan standar dapat menggunakan SaaS, sementara perusahaan yang mengembangkan aplikasi sendiri mungkin membutuhkan PaaS atau IaaS.
Pertimbangkan pula karakteristik workload. Aplikasi dengan trafik yang berubah-ubah membutuhkan fleksibilitas resource yang berbeda dengan sistem yang memiliki beban kerja relatif stabil.
Perhatikan Data dan Keamanan
Data perusahaan memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda. Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan klasifikasi data, kebutuhan akses, enkripsi, backup, disaster recovery, serta kebijakan keamanan sebelum memilih lingkungan cloud.
NIST menekankan bahwa setiap model layanan cloud memiliki karakteristik kontrol yang berbeda. Semakin besar kontrol yang diberikan kepada pengguna, semakin banyak pula komponen yang menjadi tanggung jawab pengguna untuk dikelola.
Di Indonesia, aspek perlindungan data juga perlu diperhatikan ketika perusahaan mengelola data pribadi. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi menjadi salah satu landasan yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan data pribadi oleh organisasi.
Hitung Kebutuhan dan Biaya Jangka Panjang
Cloud bukan sekadar memindahkan biaya pembelian server menjadi biaya berlangganan. Perusahaan perlu memperhitungkan kebutuhan compute, storage, jaringan, lisensi, backup, keamanan, dan pengelolaan.
Kapasitas yang terlalu besar dapat menyebabkan resource tidak termanfaatkan secara optimal, sedangkan kapasitas yang terlalu kecil dapat memengaruhi performa aplikasi. Karena itu, monitoring dan optimasi penggunaan resource perlu menjadi bagian dari pengelolaan cloud setelah implementasi.
Pertimbangkan Kemampuan Tim IT
Semakin besar kontrol yang diberikan kepada perusahaan, semakin besar pula tanggung jawab teknis yang perlu dikelola. SaaS membutuhkan pengelolaan infrastruktur yang relatif lebih sedikit, sedangkan IaaS memberikan kontrol lebih luas sekaligus membutuhkan kemampuan teknis yang lebih besar.
Perusahaan perlu memilih model yang sesuai dengan kemampuan internal. Jika pengelolaan infrastruktur cloud terlalu kompleks untuk ditangani sendiri, managed service dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu operasional.
Cloud untuk Mendukung Kebutuhan Bisnis yang Terus Berkembang
Perkembangan cloud di Indonesia menunjukkan bahwa teknologi ini tidak lagi hanya berkaitan dengan penyimpanan data atau server virtual. Komdigi menempatkan cloud computing bersama AI dan big data sebagai bagian dari teknologi yang mendukung transformasi digital.
Karena itu, perusahaan perlu melihat cloud sebagai bagian dari arsitektur teknologi secara keseluruhan. Pemilihan layanan sebaiknya mempertimbangkan aplikasi, data, konektivitas, keamanan, integrasi, kemampuan tim IT, serta kebutuhan pengembangan di masa depan.
Untuk kebutuhan tersebut, MyTEnS menyediakan Data & Cloud Services yang mencakup Data Center Services seperti colocation, site construction, dan disaster recovery planning, serta Cloud Services yang meliputi IaaS, SaaS, dan PaaS.
Jika perusahaan sedang menentukan jenis layanan cloud untuk perusahaan dan membutuhkan solusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan infrastruktur, data, serta workload, pelajari lebih lanjut Data & Cloud Services dari MyTEnS.
Baca Juga: Kenapa Cloud Computing Penting untuk Perusahaan Besar?