Phishing: Pengertian, Contoh, dan Cara Menghindarinya

Diposting pada : 2026-06-22 | Tags :

Upaya pencurian data akun, kata sandi, informasi perbankan, dan kode OTP menggunakan metode phishing dan rekayasa sosial

Di tengah meningkatnya penggunaan layanan digital, ancaman kejahatan siber juga semakin berkembang. Salah satu modus yang paling sering digunakan oleh pelaku kejahatan siber adalah phishing. Serangan ini menargetkan pengguna internet dengan cara menyamar sebagai pihak terpercaya untuk mencuri informasi sensitif seperti kata sandi, data perbankan, nomor kartu kredit, hingga kode One-Time Password (OTP).

Menurut Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), rekayasa sosial (social engineering) masih menjadi salah satu metode yang paling sering dimanfaatkan dalam berbagai serangan siber. Phishing merupakan bentuk rekayasa sosial yang memanfaatkan kelengahan, kepanikan, atau kurangnya literasi digital korban untuk memperoleh akses terhadap data dan akun penting.

Karena dapat menimbulkan kerugian finansial maupun kebocoran data pribadi, penting bagi individu dan organisasi untuk memahami cara kerja phishing, mengenali ciri-cirinya, serta mengetahui langkah pencegahannya.

Apa Itu Phishing?

Phishing adalah metode penipuan digital yang dilakukan dengan cara menyamar sebagai individu, organisasi, atau layanan yang sah untuk mengelabui korban agar memberikan informasi rahasia.

Menurut Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), phishing merupakan salah satu bentuk serangan siber yang bertujuan memperoleh data sensitif melalui media elektronik seperti email, pesan singkat, aplikasi percakapan, media sosial, maupun situs web palsu.

Dalam praktiknya, pelaku biasanya mengirimkan pesan yang terlihat meyakinkan dan mengarahkan korban untuk mengklik tautan tertentu, mengunduh file, atau memberikan informasi pribadi. Ketika korban mengikuti instruksi tersebut, data yang dimasukkan dapat langsung jatuh ke tangan pelaku.

Baca Juga: Keunggulan Cybersecurity Telkom bagi Bisnis

Mengapa Serangan Phishing Masih Efektif?

Meskipun phishing bukan teknik baru, metode ini masih banyak digunakan karena mengandalkan faktor manusia dibandingkan kelemahan teknis sistem.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), banyak kasus penipuan digital terjadi karena pengguna memberikan informasi penting secara sukarela tanpa menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan pihak yang tidak sah.

Pelaku biasanya memanfaatkan rasa panik, rasa ingin tahu, atau keinginan korban untuk segera menyelesaikan suatu masalah. Karena itu, phishing sering kali berhasil meskipun sistem keamanan teknologi yang digunakan cukup baik.

Bagaimana Cara Kerja Phishing?

Secara umum, serangan phishing berlangsung melalui beberapa tahapan. Pertama, pelaku membuat pesan yang menyerupai komunikasi resmi dari bank, marketplace, perusahaan ekspedisi, instansi pemerintah, atau platform digital tertentu.

Selanjutnya, pesan tersebut dikirim kepada calon korban melalui email, SMS, aplikasi chat, media sosial, atau saluran komunikasi lainnya.

Korban kemudian diarahkan untuk mengklik tautan, mengunduh file, melakukan login, atau memberikan informasi tertentu. Jika korban mengikuti instruksi tersebut, data sensitif akan terkirim kepada pelaku atau perangkat korban dapat terinfeksi malware.

Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan situs web palsu yang dibuat semirip mungkin dengan situs resmi agar korban tidak menyadari adanya penipuan.

Jenis dan Modus Phishing yang Sering Ditemukan

Email Phishing

Email phishing merupakan salah satu bentuk phishing yang paling umum digunakan. Pelaku mengirim email yang tampak berasal dari lembaga resmi seperti bank, perusahaan teknologi, atau layanan digital tertentu.

Biasanya korban diberi informasi mengenai aktivitas mencurigakan, pembaruan akun, atau permintaan verifikasi data. Ketika korban mengklik tautan yang disediakan, mereka diarahkan ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri informasi login.

Smishing (SMS Phishing)

Smishing adalah phishing yang dilakukan melalui SMS atau pesan singkat. Modus yang sering digunakan antara lain pemberitahuan hadiah, informasi rekening bermasalah, permintaan pembaruan data, hingga notifikasi paket yang gagal dikirim. Pesan tersebut biasanya menyertakan tautan yang mengarah ke situs berbahaya.

Vishing (Voice Phishing)

Vishing dilakukan melalui panggilan telepon. Pelaku berpura-pura menjadi petugas bank, layanan pelanggan, atau institusi resmi lainnya untuk memperoleh data pribadi, PIN, kata sandi, maupun kode OTP dari korban.

Phishing melalui Media Sosial

Pelaku dapat membuat akun palsu yang menyerupai akun resmi suatu perusahaan atau layanan pelanggan.

Melalui pesan pribadi, pelaku meminta informasi akun dengan alasan verifikasi, pemulihan akun, atau penyelesaian masalah tertentu.

Phishing Berkedok Pengiriman Paket

Modus ini semakin sering ditemukan seiring meningkatnya penggunaan layanan e-commerce dan ekspedisi.

Korban menerima pesan yang menyebutkan adanya paket tertahan, biaya pengiriman tambahan, atau kegagalan pengantaran. Pesan tersebut biasanya berisi tautan yang mengarahkan korban ke situs palsu atau file berbahaya.

Baca Juga: Apa Itu Cybersecurity Telkom? Sistem Keamanan Digital Terintegrasi

Ciri-Ciri Pesan Phishing yang Perlu Diwaspadai

Mengandung Unsur Mendesak atau Ancaman

Pelaku sering kali menciptakan situasi yang membuat korban panik, seperti ancaman pemblokiran akun, transaksi mencurigakan, atau batas waktu verifikasi yang sangat singkat.

Tujuannya adalah mendorong korban bertindak tanpa sempat melakukan verifikasi.

Menggunakan Alamat Pengirim yang Tidak Resmi

Pada email phishing, alamat pengirim sering kali dibuat menyerupai institusi asli tetapi menggunakan domain yang berbeda.

Perbedaan tersebut terkadang hanya berupa satu huruf atau karakter tambahan yang sulit dikenali secara sekilas.

Meminta Informasi Rahasia

Bank, penyedia layanan digital, maupun instansi resmi umumnya tidak meminta kata sandi, PIN, nomor CVV kartu pembayaran, maupun kode OTP melalui email, SMS, atau aplikasi chat. Jika terdapat permintaan semacam itu, pengguna perlu meningkatkan kewaspadaan.

Mengarahkan ke Tautan yang Mencurigakan

Situs phishing biasanya menggunakan nama domain yang menyerupai situs resmi. Sebelum mengklik tautan, pastikan alamat situs benar-benar sesuai dengan domain resmi organisasi yang bersangkutan.

Mengandung Kesalahan Penulisan

Beberapa pesan phishing masih memiliki kesalahan tata bahasa, ejaan, maupun format komunikasi yang terlihat tidak profesional. Meskipun saat ini pelaku semakin canggih, kesalahan semacam ini masih sering menjadi indikator adanya upaya penipuan.

Dampak Serangan Phishing

Pencurian Data Pribadi

Informasi seperti nama lengkap, alamat, nomor identitas, data rekening, dan informasi kartu pembayaran dapat disalahgunakan untuk berbagai tindakan kriminal.

Pengambilalihan Akun

Pelaku dapat menggunakan informasi login yang dicuri untuk mengambil alih akun email, media sosial, layanan perbankan digital, maupun akun bisnis.

Kerugian Finansial

Korban dapat mengalami kehilangan dana akibat transaksi tidak sah atau penyalahgunaan akses terhadap rekening dan dompet digital.

Kebocoran Data Perusahaan

Dalam lingkungan bisnis, satu serangan phishing yang berhasil dapat membuka akses ke sistem internal perusahaan dan memicu kebocoran data dalam skala besar.

Cara Menghindari Serangan Phishing

Hindari Mengklik Tautan dari Sumber yang Tidak Jelas

Jika menerima pesan yang mencurigakan, hindari membuka tautan yang disertakan. Sebaiknya akses layanan terkait melalui situs atau aplikasi resmi.

Lakukan Verifikasi Melalui Kanal Resmi

Apabila menerima pemberitahuan mengenai akun, transaksi, atau hadiah tertentu, lakukan konfirmasi melalui nomor layanan pelanggan atau kanal resmi organisasi terkait.

Aktifkan Autentikasi Multi-Faktor (MFA)

Menurut berbagai praktik keamanan siber internasional, autentikasi multi-faktor dapat membantu mengurangi risiko pengambilalihan akun meskipun kata sandi berhasil dicuri.

Perbarui Sistem dan Aplikasi Secara Berkala

Pembaruan perangkat lunak membantu menutup celah keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

Jangan Pernah Membagikan Kode OTP

Kode OTP bersifat rahasia dan hanya digunakan oleh pemilik akun. Tidak ada petugas resmi yang berhak meminta kode OTP dari pengguna.

Gunakan Solusi Keamanan Digital

Perangkat keamanan seperti antivirus, anti-malware, email security, dan sistem deteksi ancaman dapat membantu mengidentifikasi situs maupun aktivitas yang mencurigakan sebelum menimbulkan kerugian.

Meningkatkan Ketahanan terhadap Ancaman Phishing

Phishing tidak hanya menjadi ancaman bagi individu, tetapi juga bagi organisasi yang mengelola data pelanggan dan sistem bisnis digital. Karena itu, pencegahan phishing perlu dilakukan melalui kombinasi teknologi, kebijakan keamanan, dan edukasi pengguna.

Untuk membantu organisasi menghadapi berbagai ancaman siber, termasuk phishing dan rekayasa sosial, Enterprise Solutions Telkom menyediakan berbagai solusi cybersecurity yang mendukung perlindungan jaringan, pemantauan ancaman, keamanan data, serta penguatan ketahanan digital organisasi secara menyeluruh.

Waspada terhadap Phishing di Era Digital

Phishing adalah salah satu bentuk kejahatan siber yang memanfaatkan penyamaran dan manipulasi psikologis untuk mencuri informasi penting dari korban. Modusnya terus berkembang, mulai dari email palsu, SMS penipuan, akun media sosial palsu, hingga panggilan telepon yang mengatasnamakan institusi resmi.

Dengan memahami cara kerja phishing, mengenali ciri-cirinya, serta menerapkan praktik keamanan digital yang baik, individu maupun organisasi dapat mengurangi risiko menjadi korban dan menjaga keamanan data di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Baca Juga: Tips Memilih Layanan Cybersecurity yang Tepat untuk Korporasi