Sertifikasi Tier Data Center di Indonesia dan Levelnya
![]()
Keandalan data center menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan yang mengandalkan sistem digital untuk menjalankan operasional, menyimpan data, dan melayani pelanggan. Gangguan pada pasokan listrik, sistem pendingin, atau distribusi daya dapat memengaruhi ketersediaan layanan bisnis.
Karena itu, memahami sertifikasi Tier data center di Indonesia membantu perusahaan mengevaluasi kemampuan infrastruktur pusat data dalam menghadapi pemeliharaan dan kegagalan sistem. Sertifikasi Tier dari Uptime Institute membagi klasifikasi infrastruktur data center menjadi empat level, yaitu Tier I, Tier II, Tier III, dan Tier IV.
Setiap level memiliki persyaratan berbeda terkait redundansi, pemeliharaan, dan toleransi terhadap gangguan. Pemilihan fasilitas tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional, keamanan, konektivitas, serta strategi pemulihan bencana.
Sertifikasi Tier Adalah
Sertifikasi Tier data center adalah proses verifikasi berdasarkan standar yang dikembangkan Uptime Institute untuk menilai desain, pembangunan, dan aspek operasional infrastruktur pusat data. Standar ini berfokus pada kemampuan infrastruktur pendukung, termasuk sistem kelistrikan, pendinginan, dan jalur distribusi, dalam memenuhi persyaratan setiap klasifikasi Tier.
Dalam dokumentasi resminya, Uptime Institute menjelaskan bahwa Tier Standards digunakan untuk menilai topologi infrastruktur serta keberlanjutan operasional data center. Dengan acuan yang konsisten, perusahaan dapat membandingkan kemampuan fasilitas berdasarkan kebutuhan ketersediaan layanan.
Baca Juga: Standar Keamanan Data Center Perusahaan yang Wajib Diperhatikan
Jenis Sertifikasi Tier Data Center
Terdapat tiga jenis penilaian utama yang perlu dibedakan ketika perusahaan mengevaluasi sertifikasi data center.
- Tier Certification of Design Documents (TCDD) menilai dokumen desain infrastruktur untuk memastikan rancangan memenuhi persyaratan Tier yang dituju.
- Tier Certification of Constructed Facility (TCCF) memverifikasi fasilitas yang telah dibangun untuk memastikan implementasinya sesuai dengan persyaratan desain dan standar Tier.
- Tier Certification of Operational Sustainability (TCOS) mengevaluasi praktik pengelolaan operasional, termasuk prosedur, pemeliharaan, dan pengendalian risiko operasional.
Ketiganya memiliki ruang lingkup berbeda. Sertifikasi desain tidak otomatis berarti fasilitas yang sudah dibangun memperoleh sertifikasi konstruksi. Sementara itu, penilaian keberlanjutan operasional memberikan perspektif tambahan tentang bagaimana fasilitas dikelola untuk mendukung performa yang diharapkan.
Apa Saja Level Sertifikasi Tier Data Center?
Uptime Institute menetapkan empat klasifikasi Tier berdasarkan karakteristik infrastruktur dan kemampuannya menghadapi pemeliharaan maupun gangguan. Perbedaan utamanya terletak pada redundansi komponen, jalur distribusi, dan toleransi terhadap kegagalan.
Tier I: Basic Capacity
Tier I merupakan level dasar dengan kapasitas infrastruktur untuk mendukung operasional teknologi informasi. Pada level ini, redundansi belum dirancang untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan tanpa dampak terhadap layanan.
Pemeliharaan atau kegagalan komponen maupun jalur distribusi tertentu dapat menyebabkan gangguan operasional. Karena itu, Tier I dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan dengan toleransi downtime yang lebih besar dan konsekuensi gangguan yang relatif terbatas.
Tier II: Redundant Capacity Components
Tier II menambahkan komponen kapasitas redundan untuk mengurangi dampak kegagalan komponen tertentu. Redundansi dapat diterapkan pada sistem pendukung seperti kelistrikan dan pendinginan.
Namun, penambahan komponen cadangan tidak berarti seluruh jalur distribusi telah memiliki redundansi yang memungkinkan pemeliharaan tanpa gangguan. Pemeliharaan tertentu masih dapat memerlukan penghentian operasional, sedangkan kegagalan jalur distribusi tetap berpotensi memengaruhi layanan.
Tier III: Concurrently Maintainable
Tier III dirancang agar setiap komponen kapasitas dan jalur distribusi yang diperlukan dapat dikeluarkan dari layanan untuk pemeliharaan atau penggantian terencana tanpa menghentikan operasional teknologi informasi.
Karakteristik ini penting bagi perusahaan yang membutuhkan pemeliharaan berkala tanpa harus menjadwalkan penghentian layanan secara menyeluruh. Meski demikian, Tier III tidak berarti fasilitas kebal terhadap gangguan. Kegagalan peralatan atau kesalahan operator masih dapat memengaruhi operasional.
Tier IV: Fault Tolerant
Tier IV memiliki persyaratan lebih tinggi dalam hal toleransi terhadap kegagalan. Infrastruktur dirancang agar kegagalan satu komponen atau terputusnya satu jalur distribusi tidak mengganggu operasional sesuai kriteria standar.
Kemampuan tersebut didukung oleh redundansi dan pemisahan sistem yang dirancang untuk membatasi dampak gangguan. Tier IV relevan bagi organisasi yang memiliki persyaratan kontinuitas layanan sangat tinggi, tetapi pemilihan level ini tetap perlu didasarkan pada analisis risiko dan kebutuhan bisnis.
Baca Juga: Colocation Data Center untuk Infrastruktur Bisnis
Cara Memilih Tier Data Center untuk Bisnis
Pemilihan Tier sebaiknya didasarkan pada konsekuensi bisnis apabila sistem mengalami downtime, bukan semata-mata mengejar klasifikasi tertinggi. Perusahaan perlu menilai karakteristik aplikasi, kebutuhan pemeliharaan, anggaran, serta kemampuan pemulihan layanan.
Sesuaikan Tier dengan Kebutuhan Operasional
Tier III dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan yang membutuhkan pemeliharaan terencana tanpa penghentian operasional teknologi informasi. Sementara itu, Tier IV dapat dipertimbangkan untuk beban kerja yang memerlukan toleransi lebih tinggi terhadap jenis kegagalan tertentu.
Sistem transaksi, layanan keuangan, platform digital, dan aplikasi penting lainnya perlu dinilai berdasarkan dampak gangguan terhadap pelanggan, pendapatan, dan kepatuhan. Hasil penilaian ini membantu perusahaan menentukan tingkat ketahanan infrastruktur yang sesuai.
Periksa Status dan Ruang Lingkup Sertifikasi
Ketika memilih penyedia data center di Indonesia, periksa nama fasilitas, lokasi, klasifikasi Tier, serta jenis sertifikasi yang dimiliki. Pastikan sertifikasi berlaku untuk fasilitas yang akan digunakan, bukan hanya untuk desain atau fasilitas lain milik penyedia layanan.
Salah satu referensi untuk melakukan verifikasi adalah direktori penghargaan dan sertifikasi Uptime Institute, yang memuat fasilitas di Indonesia beserta jenis sertifikasi yang tercatat.
Evaluasi Keamanan, Konektivitas, dan Pemulihan Bencana
Sertifikasi Tier bukan satu-satunya faktor penentu kualitas data center. Perusahaan juga perlu mengevaluasi kontrol akses fisik, keamanan siber, pemantauan, konektivitas, dukungan teknis, pencadangan data, dan rencana pemulihan bencana.
Lokasi fasilitas serta ketergantungan terhadap sumber daya dan jaringan eksternal juga perlu diperhitungkan. Dengan demikian, keputusan tidak hanya didasarkan pada kemampuan infrastruktur menghadapi kegagalan, tetapi juga pada kesiapan perusahaan memulihkan layanan ketika terjadi insiden.
Pilih Solusi Data Center dan Cloud Sesuai Kebutuhan Bisnis
Sertifikasi Tier data center membantu perusahaan memahami kemampuan infrastruktur dalam menghadapi pemeliharaan dan kegagalan sistem. Namun, fasilitas dengan Tier lebih tinggi tidak otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua organisasi. Keputusan perlu mempertimbangkan kebutuhan aplikasi, toleransi downtime, keamanan, konektivitas, dan anggaran.
Untuk mendukung kebutuhan infrastruktur digital perusahaan, Telkom menyediakan layanan Data Center & Cloud Services, yang mencakup layanan data center seperti colocation, pembangunan fasilitas, dan perencanaan pemulihan bencana, serta layanan cloud seperti IaaS, PaaS, dan SaaS.
Dengan mengevaluasi kebutuhan operasional secara menyeluruh, perusahaan dapat menentukan solusi data center dan cloud yang selaras dengan kebutuhan bisnis serta rencana pengembangan infrastruktur digital jangka panjang.
Baca Juga: neuCentrIX Telkom Penyedia Data Center Indonesia untuk Bisnis