


BANDA ACEH, 20 Oktober 2026 – Tidak semua perubahan besar dimulai dari langkah yang luar biasa. Terkadang, perubahan justru berawal dari keberanian untuk belajar hal baru, mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan, lalu membagikan pengetahuan tersebut kepada orang lain.
Perjalanan itulah yang dijalani Nurismi, atau akrab disapa Ibu Ismi, seorang guru Informatika (TIK) di SMA Negeri 14 Banda Aceh. Berbekal pengalaman mengajar dan semangat untuk terus berkembang, ia kini memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu sesama guru dan siswa belajar lebih kreatif, sekaligus membuat pekerjaan pendidikan menjadi lebih efektif.
Bagi Ibu Ismi, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2024, ia menghabiskan 10 tahun mengajar mata pelajaran Biologi sebagai guru kontrak yayasan. Peralihan dari Biologi ke Informatika menjadi babak baru yang menuntutnya untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Di tengah tanggung jawabnya sebagai ibu dari tiga anak dan pendidik, ia memilih untuk tidak berhenti pada apa yang telah dikuasainya. Setiap hari, ia menjalani rutinitas mengajar sembari membuka diri terhadap berbagai pengetahuan baru yang dapat mendukung pekerjaannya di sekolah.
Berawal dari Keraguan, Tumbuh Menjadi Keberanian
Titik penting dalam perjalanan Ibu Ismi bermula saat ia terpilih mengikuti program pelatihan Rural Youth AI yang diselenggarakan TelkomGroup di Aceh pada 29–31 Juli 2026.
Saat pertama mengikuti pelatihan, ia sempat merasa kurang percaya diri karena harus belajar bersama peserta lain yang memiliki latar belakang sebagai dosen. Namun, ketika memahami materi kecerdasan buatan yang relevan dengan mata pelajaran Informatika yang diampunya, keraguan itu perlahan berubah menjadi antusiasme.
Ia melihat AI bukan sekadar teknologi baru, melainkan alat yang berpotensi membantu guru mengelola pekerjaan, menyusun materi pembelajaran, dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi siswa.
Dari pelatihan tersebut, Ibu Ismi mendapatkan bekal pengetahuan dan modul pembelajaran AI yang kemudian ia kembangkan sesuai kebutuhan di lingkungan sekolahnya. Baginya, ilmu yang bermanfaat tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. Ada kesempatan yang lebih besar ketika pengetahuan itu dibagikan dan digunakan bersama.
Dari Satu Guru, Menjangkau Lebih Banyak Pendidik dan Siswa
Sepulang dari pelatihan, Ibu Ismi mulai menerapkan ilmu yang diperolehnya melalui Kelompok Belajar (Kombel) di sekolah. Forum yang rutin diselenggarakan dua kali sebulan itu menjadi ruang baginya untuk berbagi praktik pemanfaatan AI kepada rekan-rekan guru.
Salah satu penerapannya adalah penggunaan AI, seperti Claude, untuk membantu menyusun administrasi pembelajaran, mulai dari modul ajar hingga Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Dengan pendekatan ini, guru dapat mengeksplorasi cara kerja yang lebih efisien, sekaligus tetap menyesuaikan hasilnya dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran masing-masing.
Inisiatif tersebut kemudian berkembang melampaui lingkungan sekolahnya. Ibu Ismi mulai berbagi pengetahuan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Informatika yang menaungi 16 SMA negeri dan swasta di Banda Aceh, serta forum MGMP Biologi yang dekat dengan latar belakang pengajarannya terdahulu.
Ia juga secara sukarela mengajar siswa di SMA Negeri 12 Banda Aceh. Di sana, AI diperkenalkan melalui praktik yang dekat dengan keseharian siswa, salah satunya membuat flyer resep kreatif menggunakan ChatGPT dan Gemini.
Pengalaman tersebut menghadirkan momen yang membekas baginya. Siswa yang sebelumnya mungkin menganggap desain menarik hanya bisa dibuat oleh mereka yang memiliki keterampilan khusus, mulai menyadari bahwa mereka pun dapat menghasilkan karya dengan memanfaatkan teknologi.
"Alhamdulillah, guru-guru menerima dengan baik dan excited karena sangat mempermudah pekerjaan. Kalau menyusun modul ajar biasanya menyita waktu lama, dengan AI hasilnya sesuai ekspektasi dalam waktu singkat. Bahkan di SMA 12, siswa sangat bangga dan bilang, 'Ah, ternyata saya bisa ya buat flyer sebagus desain anak OSIS'," tutur Ibu Ismi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa manfaat AI tidak hanya terletak pada efisiensi pekerjaan, tetapi juga pada tumbuhnya kepercayaan diri untuk mencoba, berkreasi, dan mengembangkan kemampuan baru.
Ketika Ilmu yang Dibagikan Menjadi Dampak yang Lebih Luas
Bagi Ibu Ismi, kesempatan mengikuti Rural Youth AI menjadi pengalaman yang berbeda dari pelatihan lain yang pernah diikutinya. Materi dan praktik yang diperoleh dinilainya relevan untuk diterapkan tidak hanya dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga dalam dunia pendidikan, dengan penyesuaian sesuai kebutuhan penggunanya.
"Pelatihan AI yang saya ikuti dari Telkom berbeda dengan pelatihan lainnya yang pernah saya ikuti. Materi dan praktik yang disampaikan pada program Rural Youth AI sangat bermanfaat, tidak hanya relevan bagi UMKM, tetapi juga bisa diadopsi oleh para guru seperti saya ataupun siswa di sekolah, tentunya dengan beberapa penyesuaian," ungkapnya.
Ia berharap kesempatan berbagi ilmu tersebut dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Ke depan, Ibu Ismi berencana memperluas pelatihan ke kegiatan ekstrakurikuler desain grafis di SMA Negeri 14 Banda Aceh serta mengeksplorasi penggunaan AI untuk mendukung evaluasi pembelajaran interaktif melalui platform seperti Quizizz dan Kahoot.
Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya untuk membawa teknologi lebih dekat dengan kebutuhan nyata di sekolah. Dari ruang pelatihan, ruang guru, hingga ruang kelas, pengetahuan yang diperolehnya terus menemukan cara baru untuk memberikan manfaat.
Kisah Ibu Ismi menjadi salah satu gambaran bagaimana program Rural Youth AI TelkomGroup dapat membuka ruang bagi peserta untuk mengembangkan kompetensi digital sekaligus meneruskannya kepada komunitas di sekitarnya. Melalui inisiatif ini, TelkomGroup mendorong tumbuhnya talenta yang mampu memanfaatkan teknologi secara kreatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sejalan dengan semangat Bersama Jadi Bisa melalui pilar BISA PandAI, upaya ini menegaskan bahwa transformasi digital di bidang pendidikan tidak hanya berbicara tentang penguasaan teknologi, tetapi juga tentang manusia yang berani belajar, berbagi, dan menciptakan perubahan.
Sebab, ketika satu orang berani melangkah untuk belajar, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak orang. Dan ketika ilmu dibagikan, satu kesempatan belajar dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luas bagi pendidikan Indonesia.