

Jakarta – Di tengah meningkatnya volume sampah kertas yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia, muncul sebuah inisiatif kreatif yang menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan sentuhan seni. Underwater Crafting, sebuah jenama yang lahir dari ketertarikan mendalam terhadap alam, hadir untuk membuktikan bahwa limbah kertas dapat bertransformasi menjadi produk bernilai estetika tinggi. Melalui sang founder, Wiwin Trsining K.S., konsep EcoArt ini berhasil membawa misi pengelolaan sampah kertas ke panggung pitching nasional dalam ajang Road to Best of The Best: Bumi Berseru Fest (BBF) 2025.
Underwater Crafting mewujudkan kepedulian lingkungan dalam bentuk kerajinan tangan berbahan daur ulang. Wiwin menjelaskan bahwa proses kreatif yang ia jalani bukan sekadar tentang fungsionalitas barang, melainkan sebuah media untuk menyampaikan pesan visual mengenai keberlanjutan. Melalui produk kerajinan tersebut, masyarakat diajak untuk melihat kembali potensi dari barang-barang bekas yang selama ini sering dianggap tidak bernilai dan langsung dibuang.
Perjalanan Wiwin di Bumi Berseru Fest 2025 bermula dari ketertarikannya melalui media sosial yang diperkuat oleh dukungan lingkungan sekitar. Sepanjang rangkaian acara yang padat, Wiwin mengaku mendapatkan perluasan perspektif yang signifikan. Program ini dianggap berhasil mengubah ide-ide idealis menjadi kerangka berpikir yang lebih terstruktur dan berdampak nyata bagi ekosistem. Meski demikian, ia mengakui adanya tantangan besar dalam profesionalisme produk, terutama pentingnya peningkatan keterampilan desain agar produk daur ulang dapat bersaing di pasar premium dan menggeser ketergantungan konsumen dari kertas pabrikan.
Puncak dari perjuangan ini dirasakan Wiwin pada sesi pitching yang dilaksanakan pada 2–3 Maret 2026. Mengenai momen tersebut, Wiwin mengungkapkan perasaannya secara mendalam:
"Ketegangan luar biasa sempat menyelimuti saya di hadapan dewan juri saat memaparkan visi proyek ini. Meski diwarnai rasa lelah fisik yang cukup berat, saya merasakan kepuasan mental yang mendalam, terutama atas umpan balik jujur dan kritis yang diberikan oleh para juri. Bagi saya, masukan strategis tersebut jauh lebih berharga daripada sekadar pujian, karena berhasil membuka celah-celah perbaikan yang sangat penting demi keberlangsungan proyek ini di masa depan," ungkap Wiwin.
Upaya yang dilakukan oleh Underwater Crafting ini sejalan dengan poin Sustainable Development Goal (SDG) ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dengan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, inisiatif ini tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga mendorong praktik konsumsi yang lebih bijak demi kelestarian lingkungan.
Bumi Berseru Fest 2025, yang diinisiasi oleh Telkom Indonesia, terus berkomitmen untuk mendukung inovator lingkungan seperti Wiwin untuk mengakselerasi ide mereka menjadi bisnis yang kompetitif. Program ini mencakup berbagai kategori mulai dari Aksi untuk Bumi hingga Teknologi Hijau, dengan dukungan pendanaan dan pendampingan total ratusan juta rupiah. Informasi selengkapnya dapat diakses melalui bumiberserufest.id.