Contoh Kasus Kebocoran Data Perusahaan di Indonesia
![]()
Data menjadi salah satu aset penting bagi perusahaan di era digital. Informasi seperti nama, nomor telepon, alamat email, data pelanggan, hingga informasi transaksi tersimpan dan diproses dalam berbagai sistem untuk mendukung operasional bisnis.
Semakin banyak data yang dikelola, semakin besar pula tanggung jawab perusahaan untuk memastikan informasi tersebut tetap aman. Namun, sistem digital tetap memiliki risiko keamanan.
Salah satunya adalah kebocoran data, yaitu kondisi ketika data yang seharusnya hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang justru diakses, dicuri, atau tersebar kepada pihak yang tidak memiliki izin.
Kebocoran dapat terjadi karena serangan siber, celah keamanan pada sistem, maupun akses tidak sah terhadap infrastruktur yang menyimpan data. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan hilangnya kendali atas informasi.
Data yang bocor dapat dimanfaatkan untuk berbagai tindakan yang merugikan, sementara perusahaan juga akan menghadapi risiko terhadap reputasi, kepercayaan pelanggan, dan kepatuhan terhadap aturan perlindungan data.
Di Indonesia, sejumlah perusahaan pernah mengalami insiden keamanan yang melibatkan akses tidak sah atau pencurian data. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dari berbagai sektor dapat menjadi target dan bahwa perlindungan data perlu menjadi bagian penting dari pengelolaan bisnis digital.
Baca juga: Sistem Ujian Online untuk Sekolah: Cara Kurangi Risiko Kebocoran Soal
Kasus Kebocoran Data Perusahaan di Indonesia
Sejumlah perusahaan di Indonesia pernah mengalami insiden keamanan yang melibatkan akses tidak sah atau pencurian data pengguna.
Kasus-kasus berikut dipilih berdasarkan adanya dokumentasi dan keterangan dari perusahaan maupun sumber yang relevan, dengan membedakan informasi yang telah dikonfirmasi perusahaan dan data yang berasal dari laporan pihak ketiga.
1. Kebocoran Data Pengguna Tokopedia
Pada Mei 2020, Tokopedia mengonfirmasi adanya pencurian data oleh pihak ketiga yang tidak berwenang. Kasus ini awalnya dilaporkan melibatkan sekitar 15 juta akun, sebelum jumlahnya berkembang menjadi sekitar 91 juta akun pengguna dan lebih dari 7 juta akun merchant.
Data yang terdampak antara lain user ID, nama lengkap, alamat email, nomor telepon, jenis kelamin, tanggal lahir, serta password yang telah di-hash.
Tokopedia menyatakan password pengguna telah dilindungi dengan enkripsi satu arah dan informasi pembayaran tidak termasuk data yang dicuri. Perusahaan juga melakukan investigasi bersama pihak terkait dan melibatkan konsultan keamanan independen untuk memperkuat sistem perlindungan data.
2. Kebocoran Data Pengguna KreditPlus
Pada Agustus 2020, KreditPlus mengakui adanya pencurian data pengguna oleh pihak ketiga yang tidak berwenang. Kasus tersebut mencuat setelah firma keamanan siber Cyble melaporkan sekitar 890 ribu data nasabah KreditPlus ditemukan dan ditawarkan di forum internet.
Data yang dilaporkan mencakup nama, data KTP, alamat email, password, alamat rumah, nomor telepon, data pekerjaan dan perusahaan, serta informasi keluarga atau penjamin.
Dengan kombinasi informasi tersebut, data yang bocor berpotensi digunakan untuk penipuan maupun serangan yang menargetkan korban secara lebih spesifik.
3. Kebocoran Data Pengguna RedDoorz
Pada September 2020, RedDoorz memberitahukan pengguna mengenai adanya akses tidak sah ke sistem yang menyimpan data pelanggan. Perusahaan meyakini telah terjadi penyusupan dan menjelaskan informasi yang terdampak dalam pemberitahuan kepada pengguna.
Data yang disebut terdampak meliputi nama, alamat email, nomor telepon, alamat, dan detail pemesanan. Sementara itu, RedDoorz menyatakan informasi keuangan seperti data kartu kredit dan password tidak terdampak dalam insiden tersebut.
4. Kebocoran Data Pengguna Bhinneka.com
Pada Mei 2020, muncul laporan bahwa kelompok peretas ShinyHunters menawarkan sekitar 1,2 juta data pengguna Bhinneka.com di dark web. Informasi yang dilaporkan mencakup nama, email, nomor telepon, alamat, tanggal lahir, jenis kelamin, dan password.
Dalam pemberitahuan kepada pelanggan, Bhinneka menyatakan password yang tersimpan di database telah dienkripsi. Perusahaan juga menjelaskan bahwa mereka tidak menyimpan data kartu kredit maupun debit karena transaksi pembayaran terhubung langsung dengan payment gateway.
5. Kebocoran Data Pengguna ShopBack
Pada September 2020, ShopBack mengumumkan adanya akses tidak sah ke sistem yang menyimpan data pribadi pengguna. Perusahaan menyatakan telah mengambil tindakan pengamanan dan menghapus akses yang tidak sah tersebut setelah mengetahui insiden.
Pada saat itu, ShopBack masih melakukan investigasi untuk mengetahui secara pasti data apa saja yang terdampak. Perusahaan menyatakan belum menemukan bukti bahwa data pengguna telah disalahgunakan.
ShopBack juga memastikan saldo cashback pengguna tetap aman serta menyebut tidak menyimpan nomor kartu kredit 16 digit dan CVV pada sistemnya.
Baca juga: 10 Cara Memperkuat Sinyal WiFi di Rumah dan Kantor
Lindungi Data Perusahaan dari Ancaman Siber
Berbagai kasus kebocoran data menunjukkan bahwa perusahaan perlu memperkuat keamanan jaringan dan sistem yang digunakan untuk menyimpan maupun mengelola data. Salah satu sistem yang bisa dipertimbangkan adalah MyTEnS dari Telkom.
Layanan Wireless Connectivity MyTEnS menyediakan Managed Network & Security Services, layanan pengelolaan jaringan perusahaan secara end-to-end yang mencakup network, perangkat perusahaan/CPE, data center, WAN, hingga LAN, termasuk aspek data security.
Dalam layanan ini, MyTEnS menyediakan beberapa solusi Managed IT Security yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan keamanan perusahaan, mulai dari pemantauan keamanan hingga pengujian kerentanan sistem.
1. Managed Security Operation Center (SOC)
Managed Security Operation Center (SOC) menyediakan pusat pengoperasian sistem keamanan untuk membantu perusahaan dalam mengelola keamanan infrastruktur digital.
Layanan ini dapat menjadi bagian penting dari upaya perusahaan untuk memantau dan menangani potensi ancaman terhadap lingkungan IT yang digunakan dalam operasional bisnis.
2. Managed Security Consulting
Perusahaan juga dapat memanfaatkan Managed Security Consulting untuk mendapatkan layanan konsultasi terkait kebutuhan keamanan.
Solusi ini membantu perusahaan mendapatkan arahan dan pendampingan dalam menentukan pendekatan keamanan yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan infrastrukturnya.
3. Managed Firewall Services
Managed Firewall Services merupakan layanan sistem keamanan siber yang membantu menjaga jaringan perusahaan dari ancaman yang dapat masuk melalui jaringan.
Dengan pengelolaan firewall sebagai bagian dari layanan keamanan, perusahaan dapat memperkuat perlindungan pada sisi jaringan tanpa harus menangani seluruh pengelolaannya secara mandiri.
4. Managed Penetration Test
Managed Penetration Test (Pentest) menyediakan layanan pengujian keamanan dengan melakukan eksploitasi terkontrol terhadap sistem untuk membantu menemukan potensi kerentanan.
Pengujian ini dapat memberikan gambaran mengenai celah keamanan yang perlu diperbaiki perusahaan sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berwenang.
Dengan rangkaian Managed IT Security tersebut, perusahaan dapat memilih pendekatan keamanan sesuai kebutuhan infrastrukturnya, mulai dari pengelolaan keamanan, konsultasi, perlindungan jaringan, hingga pengujian kerentanan.
MyTEnS juga menggabungkan layanan keamanan tersebut dengan Managed Network Services, sehingga pengelolaan jaringan dan keamanan dapat menjadi bagian dari solusi yang lebih terintegrasi.
Jika perusahaan ingin memperkuat keamanan jaringan sekaligus melindungi infrastruktur digital dari berbagai potensi ancaman, Managed Network & Security Services MyTEnS dapat menjadi solusi yang dipertimbangkan.
Pelajari lebih lanjut layanan dan solusi keamanan yang tersedia melalui Managed Network & Security Services MyTEnS dan temukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan keamanan bisnis Anda.
Baca juga: TelkomGroup Hadirkan neuCentrIX Data Center