Perbedaan Private dan Public Cloud Telkom untuk Bisnis

Diposting pada : 2026-10-15

 Perbedaan private cloud dan public cloud Telkom untuk kebutuhan bisnis

Memilih layanan cloud bukan hanya soal memindahkan data dan aplikasi ke internet. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan keamanan, kebutuhan kontrol infrastruktur, biaya operasional, serta kemampuan menyesuaikan kapasitas ketika bisnis berkembang.

Karena itu, memahami bedanya private cloud dan public cloud Telkom dapat membantu perusahaan menentukan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan operasional dan anggaran.

Melalui layanan Infrastructure as a Service (IaaS), MyTEnS menyediakan pilihan private cloud, public cloud, dan hybrid cloud untuk mendukung kebutuhan infrastruktur teknologi informasi perusahaan.

Mengenal Private Cloud dan Public Cloud

Private cloud adalah model komputasi awan dengan sumber daya yang didedikasikan untuk satu organisasi. Infrastruktur tersebut dapat dikelola sendiri oleh perusahaan atau disediakan melalui penyedia layanan.

Model ini memberi keleluasaan lebih besar untuk menyesuaikan konfigurasi, pengaturan akses, dan pengelolaan lingkungan IT. Sementara itu, public cloud menyediakan sumber daya komputasi melalui penyedia layanan yang melayani banyak pelanggan dalam lingkungan yang terisolasi. Perusahaan dapat menggunakan kapasitas server, penyimpanan, dan jaringan sesuai kebutuhan tanpa harus membangun seluruh infrastruktur fisik sendiri.

Menurut Google Cloud tentang private cloud dan public cloud, perbedaan utama kedua model tersebut terletak pada penggunaan sumber daya khusus untuk satu organisasi atau infrastruktur penyedia yang digunakan bersama oleh banyak pelanggan.

Baca Juga: Memilih Jenis Layanan Cloud yang Tepat untuk Kebutuhan Perusahaan

 

Bedanya Private Cloud dan Public Cloud Telkom

Pemilihan layanan cloud tidak cukup didasarkan pada jenis infrastrukturnya. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan bagaimana setiap model mendukung kebutuhan operasional, pengelolaan risiko, efisiensi anggaran, dan pertumbuhan bisnis. Berikut empat aspek yang dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan.

1. Infrastruktur dan Kontrol Sistem

Private cloud menyediakan lingkungan khusus untuk satu organisasi sehingga perusahaan memiliki keleluasaan lebih besar dalam menentukan konfigurasi dan kebijakan pengelolaan sistem. Model ini dapat dipertimbangkan ketika aplikasi bisnis membutuhkan pengaturan infrastruktur tertentu atau integrasi dengan sistem internal.

Pada public cloud, infrastruktur fisik dikelola penyedia layanan dan sumber daya komputasinya dialokasikan kepada banyak pelanggan. Perusahaan tetap dapat mengatur sumber daya virtual dan konfigurasi yang disediakan, tetapi tingkat kontrolnya bergantung pada layanan yang digunakan.

2. Keamanan dan Pengelolaan Data

Private cloud dapat memberikan kontrol lebih besar terhadap lingkungan infrastruktur dan akses data. Namun, penggunaan private cloud tidak otomatis menjamin keamanan yang lebih baik. Perlindungan tetap bergantung pada konfigurasi, pengelolaan akses, pemantauan, pembaruan sistem, dan prosedur penanganan insiden.

Public cloud juga dapat dilengkapi berbagai fitur keamanan, seperti pengaturan identitas dan akses, enkripsi, serta pemantauan aktivitas, bergantung pada layanan dan konfigurasi yang tersedia. Perusahaan tetap perlu memastikan bahwa fitur yang dibutuhkan sudah diaktifkan dan dikelola dengan benar.

Di Indonesia, pengelolaan data pribadi perlu memperhatikan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Karena itu, sebelum memilih penyedia cloud, perusahaan perlu memahami lokasi penyimpanan data, pengaturan hak akses, mekanisme pencadangan, serta pembagian tanggung jawab keamanan antara penyedia dan pelanggan.

3. Biaya Investasi dan Operasional

Perbedaan private cloud dan public cloud juga terlihat dari struktur biayanya. Private cloud dapat memerlukan investasi untuk infrastruktur, lisensi, jaringan, pemeliharaan, dan tenaga ahli, bergantung pada model implementasi serta pengelolaannya.

Public cloud memungkinkan perusahaan menggunakan sumber daya dari penyedia layanan tanpa harus membeli seluruh perangkat fisik di awal. Biaya dapat mengikuti kapasitas atau pemakaian sesuai skema layanan. Meski demikian, pengeluaran tetap perlu dipantau karena penggunaan yang meningkat, penyimpanan data, transfer data, dan layanan tambahan dapat menambah biaya.

Oleh sebab itu, perusahaan sebaiknya membandingkan total biaya kepemilikan atau total cost of ownership (TCO), bukan hanya biaya berlangganan bulanan. Perhitungan perlu mencakup kebutuhan komputasi, lisensi, tenaga kerja, pencadangan, pemulihan bencana, dan potensi peningkatan kapasitas.

4. Skalabilitas dan Fleksibilitas

Private cloud dapat dikembangkan sesuai kebutuhan perusahaan, tetapi penambahan kapasitas bisa memerlukan penyesuaian infrastruktur, lisensi, atau sumber daya teknis. Perencanaannya perlu memperhitungkan pertumbuhan aplikasi dan kebutuhan pengguna.

Public cloud umumnya memudahkan perusahaan menambah atau mengurangi sumber daya sesuai perubahan beban kerja. Fleksibilitas ini berguna untuk aplikasi yang mengalami lonjakan trafik, pengembangan produk digital, pengujian sistem, atau kebutuhan komputasi yang berubah-ubah.

Namun, kemampuan skalabilitas aktual tetap bergantung pada spesifikasi layanan, batas kapasitas, arsitektur aplikasi, dan konfigurasi yang diterapkan.

Mana yang Lebih Sesuai untuk Kebutuhan Bisnis?

Setiap perusahaan memiliki karakteristik operasional, prioritas, dan kesiapan teknologi yang berbeda. Karena itu, pilihan cloud sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi, kemampuan pengelolaan, serta rencana pengembangan bisnis dalam jangka panjang.

Private Cloud untuk Kebutuhan Khusus

Private cloud dapat dipertimbangkan oleh perusahaan yang membutuhkan lingkungan infrastruktur khusus, konfigurasi tertentu, atau kontrol lebih besar terhadap sistem. Sebelum memilihnya, perusahaan perlu memastikan ketersediaan tenaga ahli, kesiapan pengelolaan infrastruktur, serta anggaran pemeliharaan jangka panjang.

Public Cloud untuk Kebutuhan yang Dinamis

Public cloud dapat menjadi pilihan bagi perusahaan yang ingin menggunakan infrastruktur secara fleksibel tanpa membangun seluruh kapasitas fisik sendiri. Model ini dapat mendukung pengembangan aplikasi, lingkungan pengujian, pencadangan, dan beban kerja yang berubah sesuai kebutuhan bisnis. Perusahaan tetap perlu mengatur kapasitas, hak akses, pemantauan biaya, dan kebijakan keamanan agar penggunaan cloud berjalan efisien.

Hybrid Cloud untuk Menggabungkan Keduanya

Jika kebutuhan aplikasi berbeda-beda, perusahaan dapat mempertimbangkan hybrid cloud. Model ini menggabungkan lingkungan private cloud dan public cloud sehingga beban kerja dapat ditempatkan sesuai kebutuhan kontrol, fleksibilitas, dan kapasitas.

Sebagai contoh, aplikasi yang memerlukan pengaturan khusus dapat ditempatkan di lingkungan private cloud, sedangkan aplikasi pengembangan atau beban kerja yang berubah-ubah dapat memanfaatkan public cloud. Implementasinya perlu dirancang agar integrasi, keamanan, dan perpindahan data antarlingkungan tetap terkelola.

Baca Juga: Cara Menyimpan Data di Cloud untuk Produktivitas Bisnis

 

Hal yang Perlu Diperiksa Sebelum Memilih Layanan Cloud

Sebelum menentukan layanan cloud Telkom, perusahaan sebaiknya memetakan aplikasi yang akan dipindahkan, kebutuhan kapasitas, tingkat ketersediaan sistem, serta persyaratan keamanan dan kepatuhan. Evaluasi juga perlu mencakup service level agreement (SLA), dukungan teknis, mekanisme pencadangan dan pemulihan bencana, lokasi penyimpanan data, serta transparansi biaya.

Pastikan pula pembagian tanggung jawab antara perusahaan dan penyedia layanan sudah jelas. Dalam model IaaS, misalnya, penyedia dan pelanggan dapat memiliki tanggung jawab keamanan yang berbeda untuk infrastruktur fisik, sistem operasi, jaringan virtual, aplikasi, dan data. Penjelasan mengenai prinsip ini tersedia dalam panduan keamanan cloud Google Cloud.

Untuk mengetahui pilihan infrastruktur yang sesuai, perusahaan dapat mempelajari layanan Data Center & Cloud Services MyTEnS. Diskusikan kebutuhan kapasitas, pengelolaan, keamanan, dan anggaran dengan tim penyedia layanan agar solusi yang dipilih sesuai dengan kondisi bisnis.

Memahami bedanya private cloud dan public cloud Telkom membantu perusahaan menyusun keputusan infrastruktur berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Private cloud menawarkan kontrol lebih besar terhadap lingkungan khusus, public cloud memberikan fleksibilitas penggunaan sumber daya, sedangkan hybrid cloud memungkinkan perusahaan memadukan keduanya sesuai karakteristik aplikasi dan operasional.

Baca Juga: Cloud Computing: Cara Kerja, Jenis, dan Keunggulannya