Menampilkan 249 hasil untuk "broadband"
Look for the specific information you need about TelkomGroup by using these filters.
- All Result 249
- Page 1
- News 154
- Articles 33
- Report 61
Pages
Keberhasilan strategi ini tercermin nyata dalam pencapaian metrik Net Promoter Score (NPS) yang terus menunjukkan tren positif. Pada semester kedua tahun 2025, TelkomGroup berhasil mencatatkan skor NPS sebesar 63, yang menempatkan perusahaan dalam kategori "Excellence". Penilaian ini mencakup kepuasan pelanggan di berbagai segmen, mulai dari pelanggan seluler dan fixed broadband (IndiHome) hingga sektor korporasi (Enterprise) dan bisnis digital, yang membuktikan loyalitas serta kepercayaan tinggi masyarakat terhadap kualitas layanan Telkom.
See DetailsNews
7 April 2015
BeritaPengembang Perumahan Harus Dukung Infrastruktur Broadband
Saat ini penetrasi Internet broadband di Indonesia relatif masih rendah. Bila dilihat dari lebih dari 60 juta jumlah rumah tangga di Indonesia, maka tingkat penetrasi fixed broadband di Indonesia baru mencapai 5% atau sekitar 3 juta sambungan. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka angka tersebut lebih kecil lagi yakni baru 1,3% atau berada pada ranking 122 di dunia. Angka ini masih jauh dibandingkan negara tetangga seperti Filipina (2,6%; ranking 110), Malaysia (8,2%; ranking 79) atau Korea (38%; ranking 6). Para pemain Fixed broadband di Indonesia tak tinggal diam dengan kondisi ini karena menyakini kebutuhan masyarakat terhadap internet cepat dan stabil itu sudah seperti mengonsumsi makanan pokok. “Kami tidak tinggal diam dengan kondisi ini. Telkom telah memiliki 13,2 juga homepassed dan akan terus ditingkatkan. Tetapi harus diketahui, untuk meningkatkan penetrasi layanan ini butuh dukungan semua pihak, salah satunya pengembang perumahan,” ungkap Direktur Consumer Telkom Dian Rachmawan di Jakarta, Selasa (7/4). Diungkapkannya, saat ini masih banyak pengembang atau developer baik perumahan atau apartemen menyediakan Instalasi Kabel Rumah (IKR) berbasis tembaga. “Padahal kalau bicara broadband itu serat optik. Kami himbau developer yang tengah membangun memperhatikan hal ini dengan meninggalkan tembaga dan beralih ke optik,” sarannya. Dikatakannya, sebagai operator Telkom siap memberikan konsultasi teknis kepada para developer secara cuma-cuma tentang IKR yang memenuhi spesifikasi untuk mendukung akses serat optik. Dikatakannya, sebagai operator Telkom siap memberikan konsultasi teknis kepada para developer secara cuma-cuma tentang IKR yang memenuhi spesifikasi untuk mendukung akses serat optik. “Kami di level akses sudah optik, kalau di rumah masih tembaga, jadinya kan tak nyambung. Kami terpaksa membantu pemilik rumah untuk masalah ini. Padahal ketersediaan kabel hingga kotak terminal batas itu dari pemilik rumah. Kalau developer memikirkan ini sejak awal membangun, kan bagus juga untuk estetika bagi pemilik rumah,” pungkasnya. Seperti diketahui, tahun ini Telkom melalui merek IndiHome menargetkan ada tiga juta pengguna layanan Triple Play. Kekuatan dari IndiHome pada infrastruktur FTTH yang mampu menawarkan kecepatan akses internet hingga 100 Mbps. Selain itu juga ada konten UseeTV yang sudah didukung gambar High Definition (HD), dan gratis telepon 1000 menit jangkauan lokal atau interlokal.(Sumber dari: indotelko.com)
See Details18 Desember 2015
BeritaBroadband Industrial Estate Penopang Kawasan Industri
Jakarta, 18 Desember 2015 – Dalam rangka mendukung program pemerintah untuk pengembangan sektor industri Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) terus berupaya mengembangkan Broadband Industrial Estate dengan menyediakan layanan Information Communication Technology (ICT) untuk kawasan industri Indonesia. Setelah sebelumnya melakukan kerjasama dengan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Kawasan Berikat Nusantara (KBN) dan Kawasan Industri Makasar (PT KIMA), saat ini Telkom melakukan kerjasama dengan PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Telekomunikasi antara Telkom dengan Kawasan Industri yang berlokasi di Bahodopi Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah ini dilakukan oleh Executive Vice President Telkom Regional VII Kawasan Timur Indonesia Muhammad Firdaus dan Direktur Utama IMIP Alexander Barus, disaksikan oleh Direktur Enterprise & Business Service Telkom Muhammad Awaluddin dan Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Imam Haryono di Hotel J.S.Luwansa Jakarta (18/12). Pada kesempatan tersebut, Dirjen PPI Kemenperin Imam Haryono memberikan apresiasi kepada PT. IMIP yang telah berperan serta dan menjadi "Pionir" dalam mengembangkan kawasan industri berbasis nikel di lokasi remote area yang minim infrastruktur pendukung seperti di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Sementara apresiasi diberikan kepada Telkom yang telah berperan serta mewujudkan Broadband Industrial Estate dengan menyediakan Layanan ICT di Kawasan Industri Morowali. “Dengan adanya pengembangan Broadband Industrial Estate ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sektor industri wilayah di luar Pulau Jawa menjadi 40% pada tahun 2035 sehingga dapat berkontribusi terhadap pemerataan pembangunan sektor industri dan perekonomian nasional di seluruh wilayah Indonesia,” tambah Imam Haryono. Direktur Enterprise & Business Service Telkom Muhammad Awaluddin menjelaskan, kerjasama ini merupakan wujud komitmen Telkom untuk mendukung program pemerintah dalam memajukan sektor industri Indonesia, setelah sebelumnya Telkom telah mendukung sektor maritim, pariwisata dan pendidikan Indonesia. Dipaparkannya, kerjasama ini sejalan dengan program Telkom yang sedang menggelar infrastruktur broadband di seluruh Indonesia melalui program Indonesia Digital Network. Hal ini juga didukung oleh jaringan infrastruktur backbone fiber optic yang terbentang menghubungkan seluruh Nusantara mulai dari Banda Aceh hingga Papua serta jaringan infrastruktur internasional. “Kami siap menjawab kebutuhan para pelaku industri yang berada di Kawasan Industri di seluruh Indonesia,” ujar Awaluddin. Dalam kerjasama ini, Telkom mendukung kegiatan bisnis di kawasan industri melalui pengembangan Broadband Industrial Estate yaitu pengelolaan kawasan industri berbasis digital. Kawasan digital ini akan memberikan solusi layanan yang terintegrasi seperti connectivity (voice telepon/SIP Trunk, komunikasi data Metro/MPLS/IPLC, internet Astinet/IP Transit/High Speed Internet, wifi.id/wifi corner, IPTV UseeTV), contact center, SMS blast, Data Center, Data Recovery Center, Big Data, Digital Advertising, Digital Marketing, IndiSmart, Siap Online, Application, Platform, SAP, ERP, e-Office. Selain ini tidak tertutup untuk dikembangkan ke solusi lain sesuai perkembangan dan kebutuhan di lingkup kawasan industri terpadu IMIP Morowali, Sulawesi Tengah. Sementara Direktur Utama IMIP Alexander Barus berharap, melalui kerjasama dan dukungan infrastruktur ICT Telkom di Kawasan Industri Morowali dapat mendorong percepatan pembangunan Kawasan Industri di luar Pulau Jawa serta memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan sektor industri Indonesia ke depannya. Kawasan Industri yang terletak di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah ini dibangun sejak Desember 2014 diatas lahan seluas 1200 ha dan akan dikembangkan hingga 2000 ha dan telah beroperasi komersial sejak April 2015. Pembangunan Kawasan Industri Morowali dimulai dengan pabrik smelter termasuk infrastruktur pendukung untuk kemudian dikembangkan sampai dengan pengolahan hasil industri stainless steel. Executive Vice President Telkom Regional VII Muhammad Firdaus juga mengungkapkan kebanggannya dapat ikut berkontribusi bagi pengembangan kawasan industri di Kawasan Timur Indonesia melalui dukungan layanan ICT yang kami miliki. Bagi Telkom Regional VII Kerja Sama dengan PT IMIP ini adalah kerja sama yang kedua kalinya dengan kawasan industri setelah bulan sebelumnya melakukan penandatanganan kerja sama dengan Kawasan Industri Makassar (PT KIMA). Telkom Indonesia #untukIndonesia. (Kanan – Kiri ) Direktur Enterprise & Business Service Telkom Muhammad Awaluddin dan Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Imam Haryono menyaksikan Direktur Utama IMIP Alexander Barus dan Executive Vice President Telkom Regional VII Kawasan Timur Indonesia Muhammad Firdaus saat menandatangani Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Telekomunikasi antara Telkom dengan PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Jakarta, Jumat (18/12).
See Details17 Oktober 2019
BeritaTelkom Resmikan Bukittinggi menjadi "Modern Broadband City"
Wakil Walikota Bukittinggi Irwandi (tengah) usai meresmikan Bukittinggi Broadband Modern City didampingi oleh Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin (kedua dari kiri), Direktur Consumer Service Telkom Siti Choiriana (paling kiri) dan Executive Vice President Telkom Regional I Area Sumatera I Ketut Budi Utama (kedua dari kanan), di Bukittinggi, Kamis (17/10). Kehadiran infrastruktur fiber optik di Bukittinggi merupakan bentuk komitmen Telkom untuk meningkatkan kualitas layanan ICT bagi masyarakat serta mempercepat terwujudnya digitalisasi Indonesia, khususnya di wilayah Bukittinggi. Jakarta, 17 Oktober 2019 – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berhasil melakukan modernisasi infrastruktur telekomunikasi di kota Bukittinggi. Modernisasi jaringan ini dilakukan dengan menyediakan jaringan 100% berbasis fiber optik sehingga Bukittinggi kini layak menyandang predikat Telkom Modern Broadband City dan nantinya siap menjadi Smart City. Peresmian Bukittinggi Broadband Modern City ini dilakukan oleh Wakil Walikota Bukittinggi Irwandi bersama Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin dan Direktur Consumer Service Telkom Siti Choiriana di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Sumatera Barat, Kamis (17/10). Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin mengatakan, Telkom terus melakukan penguatan kapabilitas digital dalam hal layanan, infrastruktur, dan pengalaman digital pelanggan melalui program Modern Broadband City. Telkom melakukan modernisasi jaringan tembaga menjadi jaringan serat optik untuk meningkatkan layanan dan variasi konten yang lebih menarik bagi seluruh segmen pelanggan. “Kehadiran infrastruktur fiber optik di Bukittinggi merupakan bentuk komitmen Telkom untuk meningkatkan kualitas layanan ICT bagi masyarakat serta mempercepat terwujudnya digitalisasi Indonesia, khususnya di wilayah Bukittinggi,” ujar Zulhelfi Abidin. Modernisasi infrastruktur serta migrasi pelanggan di Bukittinggi dilaksanakan sejak 2015 hingga Mei 2019 melalui penggantian kabel tembaga menjadi fiber optic. Dikatakan Zulhelfi, layanan ICT berbasis fiber optik nantinya mampu menghadirkan performa yang jauh lebih baik bahkan hingga ke tahapan Internet of Things (IOT), seperti home security, office security, transportation system, hingga government system yang mendukung penerapan Smart City,” ungkap Zulhelfi. Infrastruktur ICT berbasis fiber optik yang disediakan Telkom ini diharapkan juga dapat membantu penerapan program Smart City Kota Bukittinggi secara optimal. Sampai saat ini, Telkom telah merealisasikan 191 Modern Broadband City dan 8 Modern Province (6 provinsi di Kalimantan, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara). Dalam mendukung digitalisasi di Sumatera Barat, Telkom telah membangun infrastruktur mencakup 2.140 km backbone serat optik, 1.027 Base Transceiver Station (BTS) Telkomsel, 137.000 port fiber IndiHome, dan 3.691 access point wifi. Sedangkan khusus di Bukittinggi, Telkom memiliki 497 km backbone serat optik, 87 BTS Telkomsel, 12.000 port IndiHome dan 253 access point wifi. Selain meresmikan Bukittingi Modern Broadband City, bertempat di STO Bukittinggi Zulhelfi juga melakukan pemotongan kabel tembaga di Sentral Telepon Otomat (STO) Bukittinggi simbol peralihan infrastruktur. Shutdown STO secara nasional ini merupakan wujud langkah Telkom untuk beralih ke teknologi 100% fiber optik. “Telkom berencana akan me-shutdown 1.234 STO di 2019 dan ditransformasi seluruhnya menjadi Telkom Cloud di 2021,” ujarnya. Zulhelfi menegaskan, di era digital ini, modernisasi infrastruktur 100% fiber optik di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Bukittinggi, diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan broadband berkualitas. “Telkom berkomitmen terus membangun masyarakat digital Indonesia dan mendukung kemajuan ekonomi digital nasional melalui penyediaan infrastruktur dan konektivitas yang merata, bukan hanya di wilayah perkotaan, tetapi juga di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Hal ini sebagai upaya mengakselerasi kemajuan ekonomi digital Indonesia, sejalan dengan cita-cita pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara,” tegas Zulhelfi.
See DetailsArticles
10 November 2025
Perbedaan Astinet dengan Internet Broadband: Mana yang Tepat untuk Bisnis?
Koneksi internet yang andal dan efisien menjadi salah satu kebutuhan utama bagi bisnis di era digital saat ini. Memahami layanan internet yang tepat dapat meningkatkan produktivitas dan mendukung kelancaran operasional perusahaan. Artikel ini akan membahas perbedaan Astinet dengan Internet Broadband secara mendalam, sehingga Anda dapat menentukan pilihan terbaik sesuai kebutuhan bisnis Anda. Apa Itu Astinet? Astinet adalah layanan internet berkecepatan tinggi yang menggunakan jalur khusus (dedicated line) dengan Service Level Agreement (SLA) yang menjamin kestabilan dan kualitas koneksi. Layanan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dengan intensitas penggunaan internet yang tinggi dan membutuhkan koneksi yang stabil tanpa gangguan. Astinet menawarkan kecepatan upload dan download symmetrically, serta tingkat keamanan dan pengelolaan jaringan yang lebih ketat. Oleh karena itu, Astinet sering digunakan oleh bisnis yang mengandalkan transfer data besar, cloud computing, dan aplikasi berbasis jaringan yang kritikal. ASTINet, Layanan Internet Dedicated Tercepat dari Telkom Apa Itu Internet Broadband? Internet broadband merupakan layanan internet dengan jalur akses bersama (shared connection) yang paling umum digunakan masyarakat dan bisnis berskala kecil hingga menengah. Jenis broadband meliputi DSL, kabel, dan fiber optic, dengan kecepatan dan kualitas yang bervariasi, tergantung kapasitas jaringan dan jumlah pengguna pada waktu tertentu. Broadband menawarkan paket yang fleksibel dan harga kompetitif, cocok untuk kebutuhan internet standar seperti browsing, email, dan aplikasi bisnis umum. Koneksi broadband umumnya memiliki kecepatan download lebih tinggi dibanding upload dan terkadang mengalami fluktuasi kestabilan karena penggunaan bersama. Perbedaan Astinet dengan Internet Broadband Perbedaan Astinet dengan Internet Broadband Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, di era digital yang serba cepat, kebutuhan akan koneksi internet yang stabil dan andal menjadi semakin penting. Baik bagi individu maupun perusahaan. Di Indonesia, Telkom Indonesia menawarkan berbagai jenis layanan internet yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Dua di antaranya adalah Astinet dan Internet Broadband. Sekilas keduanya sama-sama memberikan akses internet, namun sebenarnya memiliki perbedaan mendasar dari sisi teknologi, segmen pengguna, hingga keunggulan layanan yang ditawarkan. Memahami perbedaan ini akan membantu Anda memilih jenis koneksi internet yang paling sesuai dengan kebutuhan, apakah untuk kebutuhan bisnis yang kritis atau penggunaan sehari-hari di rumah. Beberapa aspek utama yang membedakan Astinet dan Internet Broadband meliputi: 1. Kualitas Layanan 1. Kualitas Layanan Astinet menggunakan dedicated line yang memastikan koneksi eksklusif tanpa gangguan pengguna lain, sedangkan broadband menggunakan jalur bersama yang dapat menyebabkan penurunan performa saat trafik tinggi. 2. Kecepatan dan Kestabilan Astinet menyediakan kecepatan simetris dan kestabilan tinggi sesuai SLA, berbeda dengan broadband yang kecepatan dan kestabilannya dipengaruhi banyak faktor dan bisa berfluktuasi. 3. Keamanan dan Pengelolaan Jaringan 3. Keamanan dan Pengelolaan Jaringan Astinet menawarkan tingkat keamanan yang lebih tinggi dan kontrol jaringan yang lebih baik, penting untuk bisnis yang membutuhkan perlindungan data dan akses terbatas. Broadband lebih sederhana dalam manajemen jaringan dan cenderung kurang kustomisasi. 4. Dukungan Layanan Astinet disertai layanan dukungan teknis prioritas dan SLA yang jelas untuk waktu respons dan pemulihan, sementara broadband biasanya memiliki dukungan standar dengan waktu respons yang lebih lama. 5. Harga dan Fleksibilitas Astinet masuk ke kategori premium dengan biaya lebih tinggi dan kontrak jangka panjang, sedangkan broadband menawarkan paket lebih ekonomis dan fleksibilitas kontrak yang lebih bebas. Mana yang Tepat untuk Bisnis? Setiap bisnis memiliki kebutuhan yang berbeda, terutama dalam hal pemilihan teknologi dan layanan penunjang. Apa yang cocok untuk perusahaan besar belum tentu sesuai bagi usaha kecil, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, penting bagi pemilik bisnis untuk memahami karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan setiap opsi sebelum menentukan pilihan. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak hanya mendukung kelancaran operasional, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. 1. Memilih Astinet Memilih Astinet sangat cocok bagi perusahaan yang membutuhkan koneksi internet sangat stabil, cepat, dan aman. Layanan ini ideal untuk penggunaan intensif seperti server cloud, aplikasi real-time, dan transfer data besar. Bisnis skala besar dan korporasi biasanya diuntungkan dengan Astinet meskipun biaya yang dikeluarkan lebih tinggi. 2. Memilih Internet Broadband Internet broadband lebih sesuai untuk usaha skala kecil hingga menengah dengan kebutuhan internet umum, seperti komunikasi email, browsing, dan aplikasi yang tidak terlalu berat. Broadband menawarkan harga lebih ekonomis dan fleksibilitas yang lebih besar dalam kontrak dan paket layanan. 3. Pertimbangan Biaya dan ROI 3. Pertimbangan Biaya dan ROI Biaya menjadi faktor penting dalam memilih layanan internet. Memilih layanan sesuai kebutuhan bisnis dan potensi pengembalian investasi (ROI) akan memastikan efisiensi operasional tanpa pengeluaran berlebihan. Dengan memahami perbedaan Astinet dengan Internet Broadband, Anda dapat menentukan langkah penting dalam menentukan layanan internet yang tepat bagi bisnis Anda. Astinet menawarkan kualitas koneksi dan layanan yang unggul untuk kebutuhan bisnis dengan tuntutan tinggi, sementara broadband memberikan solusi ekonomis dan fleksibel bagi bisnis yang kebutuhan internetnya lebih ringan. Evaluasi kebutuhan operasional dan konsultasikan kepada penyedia layanan internet terpercaya agar keputusan yang diambil mendukung kelancaran dan kemajuan bisnis Anda secara optimal. IndiHome Menjadi Yang Terbaik dalam Indonesia Best Brand Award 2016 Kategori Internet Broadband
See Details24 November 2025
Wifi Managed Service: Solusi Internet WiFi Bisnis oleh Telkom
Perbedaan Astinet dengan Internet Broadband: Mana yang Tepat untuk Bisnis?
See Details12 Maret 2026
Empat Pilar TLKM 30 yang Menjadi Arah Transformasi Telkom Indonesia
Empat Pilar TLKM 30 Transformasi digital Telkom melalui TLKM 30 dibangun melalui empat pilar utama yang saling terhubung. Keempat pilar ini berfungsi sebagai arah pengembangan layanan, infrastruktur, dan inovasi teknologi Telkom di masa depan. 1. Penguatan Fixed Broadband untuk Konektivitas Rumah 1. Penguatan Fixed Broadband untuk Konektivitas Rumah Pilar pertama dalam TLKM 30 berfokus pada penguatan layanan fixed broadband, yaitu layanan internet berbasis jaringan tetap seperti fiber optic yang digunakan untuk koneksi rumah dan bisnis. Menurut laporan International Telecommunication Union (ITU), jaringan fiber optic merupakan salah satu teknologi paling penting dalam mendukung konektivitas internet berkecepatan tinggi karena mampu menyediakan kapasitas bandwidth yang besar dan stabil. Di Indonesia, Telkom melalui layanan internet rumah berbasis fiber terus memperluas jaringan untuk menjangkau lebih banyak wilayah. Penguatan infrastruktur ini dilakukan melalui: Perluasan Jaringan Fiber Optic Peningkatan Kapasitas Jaringan Broadband Peningkatan Kapasitas Jaringan Broadband Optimalisasi kualitas koneksi internet rumah Dengan kapasitas jaringan yang lebih besar, kualitas koneksi internet diharapkan tetap stabil meskipun digunakan oleh banyak perangkat secara bersamaan, seperti saat aktivitas digital meningkat pada malam hari. 2. Pengembangan Mobile Services melalui Telkomsel Empat pilar TLKM 30 yakni fixed broadband, mobile services, digital platform, dan infrastruktur digital menjadi fondasi utama yang akan membentuk arah perkembangan layanan konektivitas dan teknologi di Indonesia hingga tahun 2030. Dengan jaringan yang terus diperluas, teknologi yang terus diperbarui, serta infrastruktur digital yang semakin kuat, transformasi ini diharapkan mampu menghadirkan konektivitas internet yang lebih stabil, cepat, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.
See Details