Save Our Planet

Telkom berkomitmen mengambil peranan untuk mewujudkan ekosistem yang lebih hijau melalui praktik bisnis berkelanjutan, yakni dengan mengurangi dampak lingkungan yang mungkin dihasilkan dari operasi bisnis perusahaan. Telkom menitikberatkan pada upaya pengelolaan risiko iklim dan limbah. Selain dua topik utama ini, Telkom juga melaporkan dua topik lingkungan lainnya yaitu pengelolaan air dan pelestarian keanekaragaman hayati untuk pemenuhan standar pengungkapan nasional.

Telkom telah mengembangkan strategi keberlanjutan dan pengurangan emisi yang didasarkan pada enam lever dekarbonisasi. Upaya dimulai dari penghematan energi dan modernisasi peralatan melalui peningkatan lighting efficiency, optimalisasi cooling management system, serta pembaruan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional.Inisiatif ini diperkuat dengan elektrifikasi, mencakup penggantian genset diesel menjadi listrik PLN dan transisi kendaraan Internal Combustion Engine (ICE) ke kendaraan listrik. Telkom juga meningkatkan penggunaan energi bersih melalui pemasangan solar PV, hydrogen fuel cell genset, dan penyimpanan energi berbasis baterai lithium.

Selain itu, instrumen pasar seperti REC dan PPA dimanfaatkan untuk memastikan penggunaan energi terbarukan yang terverifikasi, sementara carbon offset digunakan untuk menangani emisi sisa melalui pembelian carbon credit dan kemitraan inisiatif NBS.

Seluruh langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah, termasuk transisi energi terbarukan PLN, mandatori biodiesel, dan roadmap refrigeran rendah GWP, yang bersama-sama membangun fondasi kuat bagi transisi energi berkelanjutan Telkom.

Keenam lever tersebut diterjemahkan ke dalam Transition Pathway yang menggambarkan perjalanan TelkomGroup untuk menurunkan emisi Scope 1 dan Scope 2 hingga mencapai Net Zero Emissions pada 2060. Jalur transisi ini disusun dalam tiga periode waktu, jangka pendek (2023-2030), jangka menengah (2040-2050), dan jangka panjang (hingga 2060).

Pada periode awal 2023-2030, Telkom menargetkan penurunan emisi hingga 20% dari baseline melalui efisiensi energi dan modernisasi jaringan, termasuk penerapan RAN AI, liquid cooling, outdoorization. Dalam fase ini, Telkom juga mulai membangun solar PV dengan kapasitas target lebih dari 14 MWp sebelum 2030.

Memasuki periode 2030-2040, upaya pengurangan emisi semakin ditingkatkan. Targetnya naik menjadi 40% reduksi emisi pada tahun 2040. Di tahap ini, Telkom mulai melakukan elektrifikasi pada seluruh armada kendaraan operasionalnya menjadi armada EV. Kapasitas pembangkit surya juga diperbesar hingga lebih dari 20 MWp, dan lebih dari setengah kebutuhan listrik data center sudah direncanakan berasal dari energi terbarukan.

Setelah itu, pada periode 2040-2050, Telkom memperdalam komitmennya untuk mencapai 70% pengurangan emisi. Kapasitas solar PV terus ditingkatkan menjadi lebih dari 30 MWp, sementara data center yang menggunakan listrik dari energi terbarukan ditargetkan melampaui 60%.

Mencapai 2060, Telkom menargetkan kondisi emisi nol bersih, yang berarti emisi yang tersisa sudah sangat kecil dan diimbangi sepenuhnya melalui offset. Konsistensi dalam menjalankan Transition Pathway ini menegaskan komitmen Telkom untuk mengambil peran sebagai entitas yang mendukung penuh visi pembangunan berkelanjutan dan mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060

Selaras dengan Transition Pathway, gambar di atas mengilustrasikan Emission Pathway TelkomGroup menuju Net Zero Emissions pada tahun 2060.

Garis merah yang naik menggambarkan skenario tanpa aksi, sementara area dibawahnya memperlihatkan kontribusi berbagai inisiatif Telkom dalam dekarbonisasi untuk penurunan emisi Green House Gas (GHG). Dimulai dari baseline sekitar 2 juta tCO2e pada 2023, penurunan awal hingga 2030 didorong oleh efisiensi energi, penggantian refrigeran ber-GWP tinggi, serta pemanfaatan solar PV.

Memasuki periode 2030–2050, penurunan emisi semakin signifikan seiring dekarbonisasi grid nasional, di mana bauran energi bersih PLN berkontribusi besar dalam menurunkan emisi listrik Telkom. Pada saat yang sama, elektrifikasi armada operasional diwajibkan, dengan target seluruh kendaraan beralih menjadi EV sebelum 2040. Kombinasi energi terbarukan (RE), REC/PPA, dan efisiensi bangunan juga terus memperkuat penurunan emisi.

Menjelang tahun 2060, seluruh inisiatif ini mengantarkan TelkomGroup mencapai 100% pengurangan emisi, dengan carbon offsets digunakan hanya untuk sisa emisi yang tidak dapat dihapuskan secara teknis. Emisi residu akan terus dikelola bahkan setelah 2060 untuk mempertahankan status net-zero. Gambar ini menegaskan komitmen TelkomGroup terhadap dekarbonisasi komprehensif yang didorong oleh teknologi, kebijakan pemerintah, dan transformasi operasional berkelanjutan.

TelkomGroup menyadari meningkatnya risiko perubahan iklim dan dampaknya terhadap seluruh lini bisnis, termasuk kualitas layanan bagi pelanggan. Sebagai respons, Telkom memulai penilaian risiko iklim pada tahun 2023, mencakup identifikasi risiko dan peluang terkait iklim serta analisis skenario iklim untuk memandu strategi adaptasi. Metodologi, proses, hasil, keterbatasan, dan asumsi dijelaskan dalam Laporan Risiko Iklim 2023, sesuai dengan kerangka pengungkapan IFRS S2. Telkom telah menetapkan strategi untuk meningkatkan ketahanan bisnis terhadap risiko iklim, termasuk penetapan metrik dan target utama, dengan emisi GRK sebagai metrik utama yang akan terus dipantau. Target Telkom mencakup pengurangan emisi Scope 1 dan 2 sebesar 20% pada tahun 2030 dibandingkan tahun dasar 2023, serta mencapai net zero untuk emisi Scope 1 dan 2 pada tahun 2030.

Komitmen Telkom roup terhadap efisiensi energi tercermin dalam investasinya, yang mencakup pengadaan dan retrofit lampu LED, refrigeran hemat energi, baterai, dan monitor berdaya rendah. Sebagai bagian dari komitmen untuk transisi menuju net zero emission, TelkomGroup telah mengimplementasikan energi terbarukan di BTS dan fasilitas publik. TelkomGroup juga memperluas penggunaan kendaraan listrik (EV) untuk mendukung operasional, yang dilengkapi dengan penyediaan titik pengisian daya EV. Saat ini, 17% dari total armada kendaraan operasional Telkom terdiri dari kendaraan listrik.

Operasional inti Telkom bergantung pada sumber daya material, seperti peralatan pendukung komunikasi, untuk memastikan kelancaran layanan kepada pelanggan. Dalam prosesnya, aktivitas ini menghasilkan limbah yang perlu dikelola secara bertanggung jawab sesuai dengan prinsip keberlanjutan.

Salah satu jenis limbah yang dihasilkan dari kegiatan operasional TelkomGroup adalah limbah kabel serat optik. Telkom menargetkan setidaknya 70% limbah kabel serat optik dapat dialihkan dari tempat pembuangan akhir (TPA) pada tahun 2030. Hingga tahun 2024, tercatat bahwa jumlah limbah kabel serat optik yang berhasil dialihkan dari TPA oleh TIF mencapai 176.046 kg atau setara 80% dari total limbah kabel. Angka ini dihitung dengan membandingkan jumlah limbah kabel yang dapat dan telah digunakan kembali terhadap jumlah limbah kabel yang dikumpulkan oleh TIF.

Telkom mendorong digitalisasi melalui penerapan kebijakan penggunaan dan distribusi informasi secara daring, seperti nota dinas elektronik, rapat virtual, berbagi dokumen bersama, survei online, serta layanan SDM berbasis teknologi informasi. Inisiatif ini bertujuan untuk memaksimalkan upaya digitalisasi dan adopsi teknologi guna mengurangi penggunaan kertas.

TelkomGroup memperoleh pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Menyadari potensi dampak lingkungan dari penggunaan air, TelkomGroup berkomitmen untuk menerapkan praktik pengelolaan air yang bertanggung jawab di seluruh gedung operasionalnya. Untuk mendukung inisiatif ini, TelkomGroup mengoperasikan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memproses limbah cair melalui tahapan filtrasi. Hal ini memastikan bahwa air limbah yang dibuang ke sistem saluran kota atau didaur ulang memenuhi standar keamanan dan bebas dari grey water maupun black water.

TelkomGroup memahami dampak lingkungan dari operasional bisnisnya, termasuk emisi GRK dan limbah, seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Sebagai bagian dari komitmen terhadap tanggung jawab lingkungan, Telkom juga aktif dalam kegiatan konservasi keanekaragaman hayati, meskipun tidak memiliki area operasional langsung di zona konservasi. Komitmen ini tercermin dari tidak adanya keluhan masyarakat terkait isu lingkungan yang timbul dari operasi Telkom sepanjang tahun 2024.

Pada tahun 2024, Telkom memfasilitasi penanaman 102.450 pohon di lahan seluas 4,6 hektare, bekerja sama dengan masyarakat lokal melalui program Hutan Binaan Digital Telkom. Selain konservasi ekosistem darat, Telkom juga aktif dalam inisiatif restorasi ekosistem laut. Pada tahun 2024, Telkom menanam 62.250 pohon mangrove (Rhizophora mucronata) dan melakukan transplantasi 896 substrat terumbu karang (Acropora sp dan Porites sp) di berbagai wilayah pesisir Indonesia.